PSIKOLOGI KLINIS ANAK DAN PSIKOLOGI PEDIATRI

Juni 17, 2008 at 12:01 pm (Uncategorized)

Psikologi klinis berpijak pada jalur akademik dan praktik. Klinik pertama yang didirikan oleh Witmer adalah untuk membantu anak-anak yang mempunyai masalah belajar. Sebelum tahun 1900, anak-anak dianggap sama dengan orang dewasa. Klasifikasi gangguan jiwa DSM I dan II tidak membedakan gangguan jiwa untuk dewasa dan anak. Baru setelah tahun 1900-an gangguan jiwa pada anak diperhatikan secara khusus. Pada DSM III dan IV tertera lebih dari 12 jenis gangguan jiwa anak axis I. Setelah itu muncul bidang Clinical Child Psychology. Bidang ini membahas masalah-masalah psikiatri pada anak, terutama dalam lingkup praktik pribadi. Bidang ini menggunakan pendekatan psikodinamik. Dalam psikologi klinis-anak berkembang spesialis untuk menangani kelainan khusus, misalnya untuk kasus pelecehan seks pada anak, depresi pada anak.

Pada tahun 1966 ternyata ada 300 psikolog yang bekerja dalam setting pediatri-dilingkungan rumah sakit, klinik-klinik perkembangan, dan lain-lain. Yang dibantu adalah anak-anak yang tidak mengalami gangguan berat namun memerlukan perhatian dan nasihat yang berkaitan dengan perkembangannya di masa depan. Bidang ini dinamakan Pediatric Psychology. Pada tahun 1967 ada dua divisi dalam American Psychological Association, divisi 1 dan 2, yang membahas masalah anak-anak, yaitu Clinical Child Psychology dan Pediatric Psychology.Pediatri atau ilmu kesehatan anak ialah spesialisasi kedokteran yang berkaitan dengan bayi dan anak. Kata pediatri diambil dari dua kata Yunani kuno, paidi yang berarti “anak” dan iatros yang berarti “dokter”. Sebagian besar dokter anak merupakan anggota dari badan nasional seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia, American Academy of Pediatrics, Canadian Pediatric Society, dan lainnya. Abraham Jacobi adalah bapak dari pediatri.[1]

Perhatian yang besar pada kekhususan psikologi untuk anak berkembang karena beberapa temuan, yaitu :

* Bertambah banyaknya kasus psikopatologi anak, yakni 22%

* Banyak gangguan yang terjadi pada anak-anak yang mempunyai konsekuensi serius pada usia dewasa.

* Kebanyakan gangguan pada masa dewasa mungkin berasal dari masalah pada masa kanak-kanak yang tidak terdiagnosis

* Perlu dilakukan intervensi untuk mencegah berlanjutnya suatu gangguan pada anak sampai dewasa.

Meskipun penekanan pada Psikolog Klinis-Anak dan Psikologi Pediatri berbeda, tetap terjadi tumpang tindih antara keduanya. Secara umum keduanya memperhatikan perspektif perkembangan untuk menentukan ada/tidaknya gangguan. Misalnya, kasus mengompol yang terjadi pada anak 2 tahun akan berbeda dengan anak 12 tahun. Demikian juga perspektif epidemiologis kedua disiplin. Kasus hiperaktif ditemukan lebih banyak pada anak laki-laki, komunitas tertentu lebih rentan gangguan dibanding komunitas lain, perilaku anak usia yang sama berubah dari zaman ke zaman. Perlu diperhatikan bahwa perilaku abnormal kadang-kadang situation spesific. Misalnya, pemalu hanya dalam lingkungan tertentu tapi tidak di lingkungan lain. Demikian juga mengenai perilaku abnormal seperti mencuri, atau berbohong pada anak merupakan suatu yang lebih dekat dengan situasi daripada dengan adanya suatu gangguan atau sifat tertentu pada anak. Lingkungan anak-orang tua, guru-kadang memiliki pengetahuan yang cukup, kadang keliru tentang anak. Ini dapat menyebabkan mereka tidak dapat mengatasi ketika anak mengalami masalah. Adanya pengetahuan tentang psikopatologi anak yang ditunjukkan pada DSM III dan IV dapat membantu untuk memahami dan merencanakan treatment pada anak. Selain pokok-pokok umum diatas, psikologi klinis anak dan psikologi pediatri juga membahas hal-hal standar dalam penanganan kasus-kasus seperti masalah asesmen, intervensi, pencegahan dan konsultasi.

Anak-anak terkadang mengalami kesukaran emosional, karena perubahan tuntutan hidup dan perubahan sikap orang tuanya, di samping pertumbuhan diri pribadi mereka, yang terkadang tidak dimengerti oleh orang tuanya. Terapi yang diberikan kepada anak yang mengalami gangguan emosi diantaranya adalah dengan menggunakan pendekatan non-directive therapy dan menggunakan permainan.[2]

Peran Neurolog Pediatri Dalam Usaha Melawan Autisme

Sekalipun memiliki prevalensi yang tinggi, mencapai 1 per 175 anak, autisme ternyata belum memperoleh perhatian dan penanganan yang memadai, khususnya di Indonesia. Hakikat autisme sebagai suatu gangguan yang hanya dapat diperbaiki namun tidak dapat disembuhkan tentu saja semakin menimbulkan kecemasan bagi para orang tua penderita Autism Spectrum Disorders (ASD). Pemberian informasi seputar gejala-gejala kontroversi, dan penanganan penderita autisme menjadi sesuatu yang semakin mendesak dan mutlak dibutuhkan. Kolaborasi intensif antar orangtua dan guru pendamping dalam upaya penyediaan pendidikan bagi penderita autisme tidak dapat dilepaskan dari peran serta para ahi neurolog pediatri yang berkiprah melalui terapi biomedis.

Stress Hambat Pertumbuhan Bayi Dalam Kandungan[3]

Stress mungkin menghambat pertumbuhan bayi dalam kandungan seorang wanita. Ukuran bayi pada wanita yang stress cenderung lebih kecil daripada yang tidak stress.

Hormon Cortisol yang dihasilkan kelenjar adrenalin saat stress sepertinya menjadi faktor penyebabnya. Telah dibuktikan juga bahwa stress saat hamil juga memicu kelahiran prematur dan tentu turunnya bobot bayi saat lahir. Tapi, penelitian untuk mempelajari pengaruh stress ibu hamil kepada janin yang masih di dalam kandungan baru kali ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur ultrasonografi (untuk melihat perkembangan janin dalam kandungan). Untuk mengatasi stress pada ibu hamil mungkin lebih cocok dengan terapi psikologi atau dukungan sosial yang lebih tinggi. Sebab pengaruh penggunaan obat-obatan antistress untuk wanita hamil juga masih kontroversial.

Gizi Buruk[4]

Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Menurut Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). WHO (1999) mengelompokkan wilayah berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang (10-19%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (=>30%).

Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Namun penghitungan berat badan menurut panjang badan lebih memberi arti klinis. Anak kurang gizi pada tingkat ringan dan atau sedang masih seperti anak-anak lain, beraktivitas , bermain dan sebagainya, tetapi bila diamati dengan seksama badannya mulai kurus dan staminanya mulai menurun. Pada fase lanjut (gizi buruk) akan rentan terhadap infeksi, terjadi pengurusan otot, pembengkakan hati, dan berbagai gangguan yang lain seperti misalnya peradangan kulit, infeksi, kelainan organ dan fungsinya (akibat atrophy / pengecilan organ tersebut).

Gizi Buruk tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara, di samping berbagai konsekuensi yang diterima anak itu sendiri. Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan system, karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan mikro/ makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan memporak porandakan system pertahanan tubuh terhadap microorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi. Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa karena berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit penting serta cairan tubuh.

Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan baik akibatnya anak tidak dapat ‘catch up’ dan mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya. Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak, akibat kondisi ‘stunting’ (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya. Yang lebih memprihatinkan lagi, perkembangan anak pun terganggu. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Jika kondisi gizi buruk terjadi pada masa golden period perkembangan otak (0-3 tahun) , dapat dibayangkan jika otak tidak dapat berkembang sebagaimana anak yang sehat, dan kondisi ini akan irreversible ( sulit untuk dapat pulih kembali).

Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi vital karena otak adalah salah satu ‘aset’ yang vital bagi anak untuk dapat menjadi manusia yang berkualitas di kemudian hari. Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi akademik di sekolah. Kurang Gizi berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa


[2] Zakiah Daradjat. 1982. Perawatan Jiwa Untuk Anak-Anak. Jakarta : NV. Bulan Bintang

[4] ppi-jepang.org

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KONVERSI AGAMA

Juni 17, 2008 at 11:11 am (Uncategorized)

KONVERSI AGAMA

A. PENDAHULUAN

Didalam perkembangan jiwa agama pada orang dewasa masih banyak dalam kenyataan hidup sehari-hari yang merasakan kegoncangan jiwa agama diantaranya perubahan-perubahan keyakinan dan kepercayaan yang sering kali terjadi pada masyarakat. Dari segi ilmu jiwa agama perubahan – perubahan tersebut bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetulan saja, dan tidak pula merupakan pertumbuhan yang wajar akan tetapi suatu kejadian yang didahului oleh berbagai proses dan kondisi yang dapat diteliti dan dapat dipelajari.

B. PEMBAHASAN

Konversi agama menurut etimologi berasal dari kata lain “conversio” yang berarti tobat, pindah dan berubah (agama) sedangkan menurut terminologi konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya (Max Heirich).

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan

tempat berada. Selain itu, konvensi agama yang dimaksudkan diuraikan dengan beberapa teori.

  1. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan, sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri
  4. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Menurut Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat yang dimaksud dengan Konversi Agama adalah terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula. Di dalam mengalami konversi agama, prosesnya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan pertumbuhan jiwa yang dilaluinya serta pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil, di tambah lagi dengan suasana lingkungan dia hidup dan pengalaman terakhir yang menjadi puncak perubahan keyakinan itu.

Proses – proses jiwa tersebut yaitu :

  • Masa Tenang , yaitu sebelum mengalami konversi, jiwa seseorang tenang karena masalah agama belum mempengaruhinya.
  • Masa Ketidaktenangan, yaitu masa dimana masalah-masalah agama mulai mempengaruhi batin seseorang, bisa dikarenakan krisi, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya, sehingga terjadinya konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya. Perasaan-perasaan ini mengakibatkan seseorang menjadi lebih sensitive.
  • Masa Konversi, terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih.
  • Keadaan Tenteram dan Tenang, yaitu timbulnya perasaan atau kondisi jiwa yang baru, dimana jiwa merasa tenang dan tenteram yang timbul dari rasa puas terhadap keputusan yang sudah diambil.
  • Ekspresi Konversi dalam hidup, yaitu pengungkapan konversi agama dalam tindak – tanduk perlakuan, sikap dan perkataan dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan – aturan ajaran agama.

Proses konversi agama menurut M.T.L Penido[1] mengandung dua unsur, pertama unsur dalam diri (endogenos origin) yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini, membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi yang disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan pribadi. Kedua, unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai diri atau kelompok yang bersangkutan.

Diatas telah disebutkan bahwa konversi agama yang dialami seseorang dapat terjadi secara langsung ataupun secara bertahap. Salah satu kerangka perubahan keyakinan seseorang yang terjadi secara bertahap dikemukakan oleh H. Carrier, yaitu :

1. Terjadi desintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami

2. Reintegrasi kepribadian berdasar kan konsepsi agama yang baru

3. Tumbuh sikap agama menerima konsepsi agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya

4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Konversi Agama

A. Pertentangan batin dan ketegangan perasaan yaitu tidak mampunya seseorang mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Di samping itu sering juga terasa memukul jiwa, merasa tidak tenteram, gelisah yang kadang – kadang diketahui sebabnya dan kadang – kadang tidak diketahui[2].

B. Pengaruh hubungan social, diantaranya yang mendorong konversi agama adalah[3] :

· Pengaruh kebiasaan yang rutin, misalnya menghadiri upacara keagamaan.

· Pengaruh anjuran atau ajakan dari orang –orang dekat, misalnya keluarga, kerabat

· Pengaruh kekuasaan pemimpin, maksudnya adalah berdasarkan kekuatan hukum

· Pengaruh pemimpin keagamaan, dengan memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin agama menjadi faktor yang kuat dalam konversi agama

    1. Faktor emosi, penelitian G. Stanley Hall factor ini banyak terjadi pada usia remaja, karena pada masa ini terkenal dengan kegoncangan emosi yang dapat mendorong terjadinya konversi agama.
    2. Faktor kemauan (Imam Al-Gazali), kemauan memiliki peran penting dalam terjadinya konversi agama. Terbukti bahwa konversi terjadi sebagai hasil dari pertentangan batin yang mengalami konversi.

Starbuck, membagi 2 tipe konversi agama[4], yaitu :

  1. Tipe Volitional, konversi agama tipe ini terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohani yang baru.
  2. Tipe Selp-Surrender, tipe ini merupakan konversi agama yang terjadi secara drastis atau mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba mengalami perubahan keyakinan dan pendiriannya terhadap suatu agama. Dari tidak percaya menjadi percaya, tidak taat menjadi taat.

Starbuck membagi dua tipe berdasarkan gejala-gejala yang ia amati berdasarkan kesimpulan dari penelitian William James, pada tipe yang kedua, William mengakui adanya pengaruh petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

C. KESIMPULAN

Konversi agama adalah proses dari sikap tidak peduli terhadap norma Agama, hingga penerimaan suatu sikap keberagamaan, proses itu bisa terjadi secara bertahap atau tiba-tiba. Proses ini menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar.

Menurut kajian psikologi agama, terjadinya perubahan arah dalam keyakinan seseorang tidak akan lepas dari penyebab utamanya, yaitu karena petunjuk atau Hidayat Ilahi, akibat penderitaan batin ataupun pilihan sendiri setelah melalui pertimbangan yang masak. Di awal-awal terjadinya perubahan tersebut, setiap diri merasakan kegelisahan batin. Sehingga sulit untuk memutuskan secara spontan mana yang harus diikuti.


[1] Prf. Dr. H. Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama, hal 69

[2] Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, hal 184

[3] Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, hal 275

[4] Prof. Dr. H. Ramayulis, op.cit., hal 65

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TASAWUF MEMBENTUK PRIBADI MULIA

September 19, 2007 at 7:23 am (Uncategorized)

TASAWUF MEMBENTUK PRIBADI MULIA

Oleh: Cholil Eren Masyah

 Segala puji bagi Allah. Dialah yang telah menyucikan hati para kekasih-Nya sehingga tidak tertarik sama sekali terhadap pesona keindahan dunia. Dialah yang telah membersihkan nurani mereka sehingga tidak terpesona terhadap apa pun selain haribaan-Nya. Dialah yang memurnikan hati nurani mereka untuk beriktikaf lama di atas hamparan kemuliaan-Nya. Setelah itu, Dia menampakkan diri-Nya di hadapan mereka lewat beragam asma dan bermacam sifat-Nya. Cahaya makrifat pun lalu memancar dari hati mereka. Dia juga menyibak tabir wajah-Nya sehingga terbakarlah nurani mereka dengan api cinta. Hati mereka tertutupi oleh hakikat keagungan-Nya dan hilang ingatan terhadap segala. Yang ada hanyalah hamparan kebesaran dan keagungan-Nya.

Setiap kali hati para kekasih Allah itu berguncang hendak menyatukan segenap perhatian kepada substansi keagungan-Nya, seketika itu juga hati mereka tertutup debu kebingungan yang menebal di seluruh penjuru akal. Setiap kali hati mereka hendak berpaling putus asa, tiba-tiba terdengar panggilan dari tenda-tenda keindahan, “Wahai, orang yang berputus asa! Bersabarlah untuk meraih kebenaran yang belum engkau kenal, tetapi sudah begitu tergesa untuk engkau gapai.” Hati mereka pun terombang-ambing antara ditolak dan diterima, antara terhalang dan tercapai. Tenggelam dalam lautan makrifat dan terbakar dalam api cinta yang menjilat-jilat.

            Salawat dan salam Allah—mudah-mudahan—melimpah abadi kepada Muhammad, Sang Nabi Pamungkas dengan risalah kenabian yang paripurna. Juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, tuan, imam, dan pemandu kebenaran sejati dari segenap makhluk dunia.

            Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya. Bahkan, Ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. Tentu hal itu, tidak dapat dilaksanakan dengan mudah. Seseorang yang ingin mencapai tingkat dapat bertemu dengan Tuhan haruslah melewati beberapa ujian-ujian dan pelatihan-perlatihan (riyadhah). Untuk mencapai rida Tuhan dan mendekat pada-Nya juga, seorang calon sufi harus dapat terlebih dahulu menempuh makam sehingga ia dapat mencapai tingkat yang tinggi dan diridai-Nya. Makam adalah suasana kerohanian yang ditunjukkan oleh seorang sufi, berupa pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah.

            Tasawuf erat sekali hubungannya dengan akhlak. Karena tasawuf adalah sebuah akhlak. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Maka, saya sebagai penulis mengajak kepada pembaca untuk menyimak penjelasan yang akan dipaparkan nanti.

 

Pamulang, 14 Januari 2007

I. PENGERTIAN TASAWUF

            Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya[1]. Dari segi bahasa terdapat beberapa kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Harun Nasution menyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan definisi tasawuf, sebagai berikut;
1.      Shafa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadah, terutama salat dan puasa.
2.      Shaf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat Alquran dan berzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. 
3.      Ahlu al-Shuffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah (pelana) sebagai bantal. Ahlu al-Suffah memiliki sifat baik hati serta mulia dan tidak mementingkan dunia. 
4.      Sophos (bahasa Yunani) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. 
5.      Shulf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini   melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.
            Diantara semua pendapat itu, pendapat yang terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam Ruhani. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.150 H).

            Dari segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana.[2] Sikap yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu membentuk seseorang ke tingkat yang mulia.

            Dengan kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental Ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf yang menjadikan mental ruhani untuk dapat mendekatkan diri dengan Allah Swt.[3]Seseorang yang dekat dengan Allah Swt., ia adalah sang kekasih. Kekasih akan lebih dilindungi, diridai, dan dikabulkan segala yang diminta oleh kekasih-Nya.

II. TUJUAN TASAWUF

            Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan Ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. 

            Al-Ghazali mengatakan bahwa tasawuf itu adalah tuntunan yang dapat menyampaikan manusia mengenal dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt[4].

            Tasawuf diciptakan sebagai media untuk mencapai maqashid al-Syar’i (tujuan-tujuan syara’)[5]. Sebagai contoh, setiap orang yang diperintahkan naik ke atas atap rumah, maka secara tidak langsung ia mencari media yang dapat digunakan untuk melaksanakan tugas itu, yakni tangga. Sufisme itu diciptakan untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:[6]

  1. Berupaya menyelamatkan diri dari akidah-akidah syirik dan batil
  2. Melepaskan diri (takhalli) dari penyakit-penyakit kalbu.
  3. Menghiasi diri (tahalli) dengan akhlak Islam yang mulia.
  4. Mencapai derajat ihsan dalam ibadah (tajalli).
  5. Menggapai kekuatan dan keluhuran iman yang dulu pernah dimiliki para sahabat Rasulullah Saw.

 

III. DASAR TASAWUF

            Dasar-dasar tasawuf telah ada sejak datangnya agama Islam, hal ini dapat diketahui dari kehidupan Rasulullah Saw. cara hidup beliau yang kemudian diteladani dan diikuti oleh para sahabat. Selama periode Makah, kesadaran spiritual Rasulullah Saw. adalah berdasarkan atas pengalaman-pengalaman mistik yang jelas dan pasti, sebagaimana dilukiskan dalam Alquran surat An-Najm: 11-13; Surat At-Takwir: 22-23. Kemudian ayat-ayat yang menyangkut aspek moralitas dan asketisme, sebagai salah satu masalah prinsipil dalam tasawuf, para sufi merujuk kepada Alquran sebagai landasan utama. Karena manusia mempunyai kecenderungan sifat baik dan sifat jahat, sebagaimana yang dinyatakan. “Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,[7] maka harus dilakukan pengikisan terhadap sifat yang jelek dan pengembangan sifat-sifat baik, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,[8] Berdasarkan ayat ini, serta ayat yang senada, maka dalam tasawuf dikonsepkanlah teori tazkiyah al-Nafs (penyucian jiwa).

Al-Ghazali membagi penyucian jiwa menjadi empat tahapan[9]:

  1. Bersih badan secara lahiriyah, seperti bersis dari kotoran, dan dari sesuatu yang najis.
  2. Bersih dari semua perbuatan dosa dan kesalahan.
  3. Bersih jiwa dari perbuatan yang tercela dan rendah.
  4. Suci jiwa dari bentuk kesyirikan. Yaitu, mengabdikan diri kepada selain Allah Swt.
 
IV. ASAL-USUL TASAWUF
            Tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun  pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari khalayak ramai. Mereka adalah orang yang berhati baik, pemurah dan suka menolong. 
            Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, Ruh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Ruh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Filsafat sufi juga demikian. Ruh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam Ruhani yang suci, tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, Ruh yang telah kotor itu dibersihkan dahulu melalui ibadah yang banyak serta melewati beberapa ujian-ujian dari mulai membersihkan diri dari segala dosa hingga mencapai rida Ilahi.
            Dari agama Budha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad[10].
            Kita perlu mencatat, agama Hindu dan Budha, filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. 
            Hakekat tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan Alquran dan Hadits. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."[11]
            Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya.”[12] Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri. 
            Disini, sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut, “Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku pun dikenal.”
            Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad, maka hadis terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud[13], kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.
            Demikianlah ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Dengan khusuk dan banyak beribadah ia akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan Ruhnya dengan Ruh Tuhan; dan inilah hakikat tasawuf.
 
V. MAKAMAT[14]
            Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun seseorang harus menempuh jalan yang sulit itu. 
            Jalan itu disebut tarekat atau dalam bahasa Arab thariqah. Intinya menjalankan tarekat adalah penyucian diri, yang oleh kaum sufi disebut sebagai makamat. Bentuk penyucian diri tersebut dilakukan melalui ibadah-ibadah, terutama puasa, salat, membaca Alquran dan zikir. 
 
Tingkatan-Tingkatan yang Ditempuh Sufi
            Tingkatan pertama yang harus dilakukan calon sufi adalah tobat dari dosa-dosanya. Baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam melaksanakan tobat tidak hanya sesuatu yang dilarang saja yang ditinggalkan, tindakan yang makruh atau pun syubhat juga harus ditinggalkan. Hal ini bisa disebut sebagai tobat nasuha, yaitu tobat yang membuat manusia menyesal dan jera atas dosa-dosanya yang lampau, serta betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. 
            Tingkatan kedua, yaitu zuhud. Di tingkatan ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan khalayak umum. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, salat, membaca Alquran dan zikir. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah, dan  membuat ia tahan lapar dan dahaga. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. Pakaiannya pun sederhana. Ia menjadi orang zahid dari dunia, orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Yang dicarinya ialah kebahagiaan Ruhani.
            Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi, ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Ia terus banyak berpuasa, melakukan salat, membaca Alquran dan berzikir. Ia juga akan selalu naik haji. Sampailah ia ke tingkatan wara'. Di tingkatan ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. 
            Dari tingkatan wara', ia pindah ke tingkatan faqr. Di tingkatan ini ia menjalani hidup kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan.
            Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke tingkatan sabar. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang penuh godaan, tetapi juga sabar dalam menerima cobaan-cobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan, bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia sabar menderita.
            Selanjutnya ia pindah ke tingkatan tawakal. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari esok; baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. 
            Dari tingkatan tawakal, ia meningkat ke tingkatan rida. Dari tingkatan ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan.
            Tingkatan-tingkatan di atas merupakan sebuah metode penyucian diri. Seorang yang telah melewatinya belum bisa dianggap sebagai sufi, tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Seseorang akan menjadi sufi setelah ia sampai ke tingkatan berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf.

            Keterangan di atas menjelaskan bahwa seorang sufi, senantiasa melakukan ujian-ujian yang harus dilewati dengan berbagai ujian yang menjadikan dirinya dekat dengan Tuhan. Untuk dekat dengan Tuhan diperlukan sebuah kesucian hati dari segala sifat tercela.

 

VI. PEMBAGIAN TASAWUF

            Para ahli Ilmu Tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki dan ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan lain sebagainya. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya. Sedangkan pada tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliyah atau wirid, yang selanjutnya di sebut sebagai tarekat. Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falssafi, akhlaki maupun amali, seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, dan bukan karena terpaksa.

            Harun Nasution mengatakan bahwa Alquran dan hadis mementingkan akhlak. Alquran dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus.Nilai-nilai ini yang harus dimiliki seorang Muslim yang akan bertasawuf sebagai pembentukan ke arah pribadi yang mulia.

            Dalam tasawuf masalah ibadah sangat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya, yang dilakukan dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. ibadah yang dilakukan itu erat kaitannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, bahwa ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Alquran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak/berpribadi mulia.

            Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah yang selalu melaksanakan pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka pada setiap kali beribadah. Hal itu dalam istilah sufi disebut dengan al-Takhallu bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau al-Ittishaf bi shifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat-sifat yang dimiliki Allah.

 

AKHLAK

            Menurut bahasa akhlak adalah bentuk jamak dari kata khilqun atau khuluqan yang berarti perangai, tabiat, watak dasar, kebiasaan, peradaban yang baik, dan agama. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”[15] dan “(Agama kami) Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.”[16] Rasulullah juga bersabda, “Orang Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya.”[17]dan “Bahwasannya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan budi pekerti.[18]

            Dari segi istilah menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[19] Sedangkan menurut Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[20]

Al-Ghazali membagi akhlak menjadi dua;

  1. Akhlak Terpuji atau Mulia (Akhlaq Mahmudah)
  2. Akhlak Buruk (Akhlaq Madzmumah)

            Akhlak yang baik timbul dari kebersihan hati, kesucian ruh, kestabilan pribadi, kemurniana sifat dan watak, karena tandon kekuatan hati telah dialiri oleh arus kekuatan Ilahiyah. Akhlak terpuji dapat mengarahkan pada sesuatu yang sempurna atau mengarahkan pada pembentukan kepribadian yang utuh. Ada yang menganggap bahwa tasawuf adalah sebuah akhlak, siapasaja yang akhlaknya meningkat, maka tingkatan tasawuf seorang sufi akan meningkat. Sebagaiman yang di ungkapkan oleh Mahmud Abdul Rauf Al-Qasim sebagai berikut:

  1. Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi penyucian jiwa, perbersihan akhlak dan membangun zahir dan batin agar memperoleh kebahagiaan yang abadi.
  2. Tasawuf adalah mengenakan segala akhlak yang baik dan meninggalkan segala akhlak yang jelek.
  3. Tasawuf seluruhnya adalah akhlak. Siapasaja meningkatkan akhlaknya, maka tingkatan tasawufnya juga akan meningkat.

            Keadaan hati yang takwa indikasinya adalah hati yang suci dan bersih, karena perasaan takwa dipengaruhi oleh kesucian dan kebersihan Allah. Dalam hadis dijelaskan bahwa hati mempunyai peranan yang penting untuk menentukan sebuah tindakan. Sebagaimana bunyi hadis berikut, “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka semua tubuh menjadi baik. Tetapi, apabila ia rusak, maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu.”[21]

Ibnu Qoyim Al-Jauziyah membagi hati menjadi tiga.[22]

  1. Salim (selamat). Hati yang terbebas dari belenggu hawa nafsu, yang senantiasa melaksanakan ibadah dan melakukan perintah Allah Swt. serta menjauhi segala yanag dilarang-Nya. Aktivitas yang dilakukakn kalbu ini adalah selalu menuju kepada Allah Swt., baik dalam keadaan takut, berharap, cinta berserah diri, ikhlas, dan bertaubat. Berdasarkan ayat Alquran yang berbunyi, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”[23]
  2. Maridh (Sakit). Yaitu, hati yang hidup, tetapi memiliki penyakit kejiwaan, seperti iri hati sombong atau angkuh, membanggakan diri, gila kekuasaan, dan mudah membuat kerusakan di muka bumi. Sebagimana yang dijelaskan dalam Alquran, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”[24] dan, “Agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.[25]
  3. Mayit (Mati). Yaitu, hati yang sudah tidak mengenal Tuhannya, meninggalkan ibadah, perbuatannya hanya untuk mengikuti hawa nafsunya yang menumbuhkan kebencian dan murka Tuhan.

Dinamika Kepribadian Islam

            Kepribadian menurut Islam adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.

            Nafs dalam khazanah Islam dapat berarti jiwa, nyawa, ruh, konasi yang berdaya syahwat[26] dan ghadhab[27], kepribadian, dan subtansi psikofisik manusia. Pada subtansi nafs ini, komponen jasad dan ruh bersatu. Subtansi manusia memiliki tiga daya, yaitu; (1) kalbu (fitrah Ilahiyah) sebagai asspek supra-kesadaran manusia yang memiliki daya emosi (rasa); (2) akal (fitrah insaniyah) sebagai asspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi (cipta) (3) nafsu (fitrah hayawaniyah) sebagai aspekk pra atau bawah-kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa).

            Ketiga komponen nafsani ini berintegrasi untuk membentuk sebuah perilaku. Dan ketiga komponen ini bekerja sama seperti satu tim yang berpusat di kalbu. Namun, dalam kondisi khusus, masing-masing komponen tersebut saling berlawanan, tarik-menarik, dan saling mendominasi untuk membentuk sebuah perilaku. Kondisi khusus ini terjadi apabila tingkah laku yang diperbuat memiliki sifat –sifat ganda yang bertentangan.

Berikut bagan cara kerja nafsani:

 

                                                                                                            Ihsan

                        Kalbu               Kepribadian Muthmainnah                    Islam

                                                                                                            Iman

                                                                                                           

                                                                                                            Sosialitas

Nafsani             Akal                 Kepribadian Lawwamah                       Moralitas

                                                                                                            Rasional

 

 

                                                                                                            Produktif

                        Nafsu               Kepribadian Ammarah              Kreatif

                                                                                                            Konsumtif

            Bagan di atas dapat dipahami bahwa masing-masing komponen nafsasni mempunyai saham dalam pembentukan kepribadian, walaupun salah satu di antaranya ada yang lebih dominan. Kepribadian Mutmainnah adalah kepribadian yang didominasi oleh kalbu (55%) yang dibantu oleh daya akal (30%) dan daya nafsu (15%). Kepribadian Lawwamah adalah kepribadian yang didominasi oleh daya akal (40%) yang dibantu oleh daya kalbu (30%) dan daya nafsu (30%). Sedangkan kepribadian Ammarah adalah kepribadian yang didominasi oleh daya nafsu (55%) yang dibantu oleh daya akal (30%) dan kalbu (15%). Bantuan daya akal lebih kuat daripada bantuan daya kalbu. Dengan demikian masing-masing komponen memiliki prosentase tersendiri dalam pembentukan kepribadian. Untuk lebih jelaskan berikut akan dijelaskan kekpribadian-kepribadian Islam;

 

  1. Kepribadian Ammarah. Yaitu, kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan. Ia menarik kalbu manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela. Sebagaimana firman Allah Swt., “karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[28]
  2. Kerpibadian Lawwamah. Yaitu, kepribadian yang telah memperoleh cahaya kalbu, lalu bangkit untuk memperebaiki kebimbangannya antara dua hal. Dalam upayanya itu, kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabakan oleh watak gelap-nya, namun kemudian ia diingatkan oleh nur Ilahi, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya ia bertaubat dan beristigfar. Allah berfirman, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” [29]
  3. Kepribadian Muthmainnah. Yaitu, kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya menjadi tenang. Allah Swt. berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.”[30]

            Dengan diuraikannya kepribadian Islam tersebut di atas, maka kita mendapat gambaran mengenai kepribadian seorang sufi. Kepribadian yang cocok bagi seorang sufi adalah kepribadian Muthmainnah.

 

 

 


PENUTUP

 

            Dari segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu membentuk seseorang ke tingkat yang mulia. Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan Ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. Al-Ghazali mengatakan bahwa tasawuf itu adalah tuntunan yang dapat menyampaikan manusia mengenal dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt.

            Tasawuf diciptakan sebagai media untuk mencapai maqashid al-Syar’i (tujuan-tujuan syara’). Karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya, yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. ibadah yang dilakukan itu erat kaitannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution bahwa ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Alquran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak/berpribadi mulia.

            Harun Nasution lebih lanjut mengatakan bahwa Alquran dan hadis mementingkan akhlak. Alquran dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus. Nilai-nilai ini yang harus dimiliki seorang Muslim yang akan bertasawuf sebagai pembentukan ke arah pribadi yang mulia.

Selain itu, tasawuf juga mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut:

  1. Berupaya menyelamatkan diri dari akidah-akidah syirik dan batil
  2. Melepaskan diri (takhalli) dari penyakit-penyakit kalbu.
  3. Menghiasi diri (tahalli) dengan akhlak Islam yang mulia.
  4. Mencapai derajat ihsan dalam ibadah (tajalli).

            Dengan demikian kaum sufi harus selalu melaksanakan pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka pada setiap kali beribadah.

Wallahu A’lam bish-Shawab


Daftar Pustaka

            Alquranul-Karim 

            Muslim, Imam, Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

            Al-Bukhari, Imam, Shahih Al-Bukhari, Semaranag: Thaha Putera, t.th

            Nasa’i, Imam, Sunan Nasa’I, Beirut: Dar al-Jail, t.th

            Tirmizi, Imam, Sunan Tirmizi. Semarang: Thaha Putera, t.th
            Arberry, A.J., Sufism, London: George Allan and Unwin Ltd., 1963.
            Badawi, A.R., Syatahat al-Sufiah, Cairo: al-Nahdah al-Misriah, 1949.
            Corbin, H., Histoire de la Philosophie Islamique, Paris, Gallimard, 1964.
      Miskawaih, Ibnu, Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyah, 1934
      A-Ghazali, Imam, Ihya’ Ulumuddin, Beirut: Dar al-Fikr, t.t., Jil. III 
            Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, edisi III, cet. Kedua.
            Siregar, Prof. H. A. Rivay, “Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme” cet. Kedua, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000
            Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002
            Nata M.A, Prof. Dr. H. Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima
            Manaf, Drs. H. Muhsin, Pschoanalisa Al-Ghazali Sofisme Holistic, Surabaya: Al-Ikhlas, 2001
            Mujib, M.ag., Abdul dan Jusuf Mudzakir M.si, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, cet. II
            Ali, Sayyid Nur Sayyid, At-Tashawwuf Asy-Syar’i, terj. M. Yaniyullah Jud.Tasawuf Syar’i, Jakarta: Hikmah-Mizan, 2003

 




[1] Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, edisi III, cet. Kedua.

[2] Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima, h. 179.

[3] Ibid., h. 181.

[4] Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Solo: CV. Ramadhani, Cet. Kelima, h. 36

[5] Sayyid Nur bin Sayyid Ali, Al-Tashawwuf Al-Syar’i, Terj. M. Yaniyullah, judul. Tasawuf Syar’i, Jakarta: Hikmah-Mizan, 2003, h. 17

[6] Ibid.

[7] QS Asy-Syam [91] :8

[8] QS Asy-Syam [91] :9

[9] Drs. H. Muhsin Manaf, Psychoanalisa Al-Ghazali Sofisme Holistic, Surabaya: Al-Ikhlas, 2001, h. 53

[10] Yaitu persatuan Ruh manusia dengan Ruh Tuhan

[11] QS Al-Baqarah [2]: 186

[12] QS Qaf [50]:16                    

[13] Yaitu kesatuan wujud. Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima, h. 247.

[14] Tingkatan Suasana kerohanian yang ditunjukkan oleh seorang sufi, berupa pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002

[15] (QS  Al-Qalam [68]: 4)

[16] (QS al-Syuara [26]: 137)

[17] (HR Ahmad)

[18] Ibid

[19] Ibnu Miskawaih, Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyah, 1934, cet. I, h. 40

[20] Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Beirut: Dar al-Fikr, t.t., Jil. III h. 56

[21] HR. Al-Bukhari dari Nu’man. Ibn ‘Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja’fi al-Bukhary Imam, Shahih al-Bukhari, Semarang: Thaha Putra, tt., juz I. h. 19

[22] Abdul Mujib, M.ag. dan Jusuf Mudzakir, M.si., Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, cet. II.   h. 211

[23] QS Asy-Syua’ra [26]: 89

[24] QS Al-Baqarah [2]: 10

[25] QS Al-Hajj [22]: 53

[26] Suatu daya yang berpotensi untuk memnginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Syahwat dalam terminologi psikologi disebut dengan appetite, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, dan hawa nafsu). Abdul Mujib, M.ag. dan Jusuf Mudzakir, M.si., Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, cet. II. h. 56

[27] Suatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Ghadhab dalam terminologi Psikoanalisa disebut dengan defense (pertahanan, pembelaan, dan penjagaan. Yaitu, membela diri atau melindungi ego dari segala ancaman, kejahatan, kecemasan, dan rasa malu; perbuatan memanfaatkan dan merasionalisasikan diri sendiri. Ibid, h. 55-56.

[28] QS Yusuf [12]: 53

[29] QS Al-Qiyamah [75]:2

[30] QS Al-Fajr [89]: 27-28

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Panduan Praktis Salat Sunah

September 18, 2007 at 10:50 am (Uncategorized)

Ini adalah karya pertamaku menulis buku tentang panduan salat sunah.

Aku berusaha membuat sebuah karya yang dapat membantu semua orang untuk mendapatkan dan mengamalkan praktik-praktik salat sunah yang mungkin bagi kebanyakan orang sudah mengerti dan mengamalkan salat sunah tersebut.

Di buku ini disajikan pengertian tentang nama salat sunah itu sendiri, hukumnya, cara pelafalannya, waktunya dan dasar hukumnya,

Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak orang. khususnya yang baru mendalami salat sunah amin.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Love Is Power

September 18, 2007 at 10:47 am (Uncategorized)

 

Love Is Power

Oleh: Cholil Eren Masyah

“Orang-orang yang beriman jauh lebih kokoh cintanya kepada Allah.

(QS. 2:165)

A. Definisi Mahabah

Dalam dunia tasawuf kata mahabah berarti cinta kepada Allah Swt. Tasawuf mendefinisikan mahabah sebagai kepatuhan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya; menyerahkan diri kepada seluruh Yang dikasihi; mengosongkan hari dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Al-Junaid menganggap mahabah sebagai suatu kecenderungan hati, maksudnya hari seseorang cenderung kepada Allah Swt. dan kepada segala sesuatu yang datang dari-Nya tanpa usaha.

Menurut Al-Ghazali, cinta kepada Allah merupakan puncak dari segala makam mistik. Setelah makam cinta, tidak ada lagi makam lain yang menandinginya. Kalaupun ada, makam itu hanya menjadi salah satu buah cinta saja, seperti kerinduan (syawq), keintiman spritual (uns), rida dan makam lain yang sejenis. Sebelum cinta juga tidak ada makam lain. Kalaupun ada, pasti akan menjadi salah satu pengantarnya saja, seperti tobat, sabar, zuhud, dan yang lain.

B. Tingkatan Mahabah

Menurut Abu Nasr as-Sarraj at-Thusi mahabah mempunyai tiga tingkat. (1) Cinta orang biasa, yaitu selalu mengingat Allah dengan zikir, suka menyebut nama Allah Swt. dan memdapatkan kesenangan dalam berdialog dengan-Nya serta memuji-Nya. (2) Cinta orang jujur, yaitu orang yang kenal kepada Allah Swt. seperti kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya, dan ilmu-Nya. Cinta ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah Swt. sehingga ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Allah Swt. orang yang berada pada cinta ini akan selalu mendapatkan kesenangan dengan “berdialog” pada Allah. Dan juga, dapat membuat orang sanggup orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sementara hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Allah Swt. (3) Cinta orang arif, yaitu cinta orang yang benar-benar mengetahui Allah Swt. yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya, sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkat inilah yang menyebabkan seorang hamba dapat berdialog dan menyatu dengan (kehendak) Allah Swt.

Setiap orang mengakui bahwa cinta sulit untuk digolongkan, namun hal itu tidak melelahkan seseorang untuk mencoba melakukannya. Klasifikasi mistik terhadap tingkatan cinta berbeda dari analisis cinta filosofis yang legal dan sekuler. Karena, para sufi secara konsisten menempatkan cinta dalam konteks psikologi mistik mereka dari ‘keadaan’ (ahwal) dan makam, dengan penekanan pada cinta sebagai transenensi diri. Lebih-lebih, cinta dalam beragam bentuknya demikian penting, sehingga ia secara umum diakui sebagai, “tujuan tertinggi dari seluruh makam dan puncak tertinggi dari segala tingkatan,” dalam istilah Abu Hamid Al-Ghazali.

C. Dasar Mahabah

Banyak sekali yang mendasari paham mahabah baik itu dari Alquran, hadis maupun dari sahabat dan ulama. Untuk itu mari kita perhatikan sebagai berikut:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [1]

…Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya,…[2]

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan, hingga Aku cinta padanya. Orang yang Ku-cintai menjadi telinga, mata, dan tangan-Ku.” [3]Hadis ini, memberikan pengertian bahwa Tuhan dan makhluk dapat dipersatukan melalui paham cinta.

Rasulullah saw. menjadikan cinta kepada Allah sebagai bagian dari syarat keimanan. Hal ini dinyatakan dalam banyak hadis, antara lain ketika Abu Ruzayn al-‘Uqayli bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah iman itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Iman itu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apa pun.”[4]

Hadis yang lain menyebutkan, “Seseorang belum dianggap beriman sampai aku lebih dicintai jauh melebihi cintanya kepada keluarga, harta, dan seluruh manusia.”[5] Dalam sebuah riwayat disebutkan, “…jauh melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.”

Rasulullah saw. juga memerintahkan kita agar mencintai Allah Swt., “Cintailah Allah, karena Dia telah melimpahkan nikmat kepadamu. Dan, cintailah aku, karena Allah mencintaiku!”[6]

Dalam sebuah hadis terkenal disebutkan, ketika malaikat kematian datang hendak mencabut nyawa Ibrahim a.s., beliau bertanya pada malaikat ini, “Pernahkah kamu dapati seorang kekasih ingin membunuh kekasihnya?” Atas pertanyaan Ibrahim, Allah kemudian menurunkan wahyu, “Pernahkah kamu dapati seorang pencinta yang tak ingin berjumpa dengan kekasihnya?” Ibrahim a.s. pun berkata, “Wahai, Malaikat Kematian, sekarang cabutlah nyawaku!”[7]

Pengalaman Nabi Ibrahim di atas hanya mungkin terjadi pada hamba yang mencintai Allah dengan sepenuh hati. Ketika ia mengetahui bahwa kematian menjadi jembatan menunju perjumpaan dengan Sang Kekasih, hatinya jadi dirundung gelisah. Ia sadar, hanya Allahlah Sang Kekasih. Tak ada yang lain. Ia pun langsung berpaling dari selain Allah Swt.

Salah satu doa Nabi saw. berbunyi, “Ya, Allah! Jadikanlah aku orang yang mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai segala sesuatu yang dapat mendekatkan cintaku kepada-Mu. Dan, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi air sejuk sekalipun.”

Abu Bakr al-Shiddiq r.a. menuturkan, “Orang yang sudah merasakan nikmatnya mencintai Allah secara tulus akan senantiasa sibuk dengan cintanya itu, sehingga tidak ada kesempatan sedikit pun untuk berurusan dengan dunia. Ia pun akan menghindar dari hiruk-pikuk kehidupan manusia.”

‘Abd al-Wahid ibn Zayd bercerita, “Suatu kali aku bertemu dengan seorang lelaki yang sedang berdiri di atas salju. Aku bertanya, ‘Apa kamu tidak merasa dingin?’ Dia menjawab, ‘Orang yang sibuk dengan cinta kepada Allah tidak akan merasakan dingin sedikit pun.’”

Sarri al-Saqathi berkata, “Pada Hari Kiamat nanti setiap umat akan dipanggil sesuai dengan nama nabi masing-masing. Mereka akan dipanggil, ‘Wahai umat Musa!’ ‘Wahai umat ‘Isa!’ ‘Wahai umat Muhammad!’ Namun, tidak demikian halnya dengan mereka yang mencintai Allah. Mereka akan dipanggil, ‘Wahai kekasih-kekasih Allah, kemarilah ke sisi-Ku!’ Hampir copot hati mereka karena saking bahagianya mendengar panggilan itu.”

Menurut Harm ibn Hayyan, “Ketika seorang mukmin sudah mengenal Tuhannya Yang Mahaagung dan Mahamulia, ia pasti akan mencintai-Nya. Setelah mencintainya, ia pasti akan menghampiri-Nya. Kala mencicipi manisnya dekat dengan-Nya, ia pasti tidak akan memandang dunia dengan tatapan mata nafsu. Demikian juga ia tidak akan memandang akhirat dengan tatapan mata sayu. Di dunia, menghadap Allah membuatnya begitu lelah. Namun, di akhirat, hal itu membuatnya lega dan nikmat.”

Dalam sebagian kitab Allah disebutkan, “Wahai hambaku, demi hakmu, Aku mencintaimu. Dan, demi hak-Ku padamu, hendaklah kamu mencintai-Ku!”

Banyak sekali hadis dan tradisi ulama terdahulu yang berbicara tentang cinta kepada Allah ini. Tidak mungkin semua dapat ditampung di sini.

D. Hakikat dan Faktor Penyebab Cinta

Membahas cinta itu tidak terlepas dari hakikat, syarat, dan faktor penyebab cinta. Maka, berikut penjelasan mengenai hakikat cinta:

Prinsip pertama cinta mengenal terlebih dulu objek yang menjadi sasaran cinta itu, sebelum mendeskripsikan cinta. Sebab, kenyataannya manusia hanya mencintai apa yang ia kenal. Cinta itu sendiri juga tidak pernah dialami benda-benda mati. Cinta hanya dialami benda-benda hidup yang sudah terlebih dulu mengenal objek yang dicintainya.

Ada tiga jenis objek yang dikenal manusia. Pertama, objek yang sesuai dan seirama dengan naluri kemanusiaannya, yang bisa menimbulkan perasaan puas dan nikmat. Kedua, objek yang bertentangan dan berlawanan dengan naluri kemanusiaannya, yang menimbulkan perasaan pedih dan sakit. Ketiga, objek yang tidak menimbulkan pengaruh apa-apa terhadap naluri kemanusiaannya. Tidak menikmatkan juga tidak menyakitkan.

Jika objek itu menimbulkan kesan kenikmatan dan kepuasan, pasti akan dicintai. Jika objek itu menimbulkan kesan yang menyakitkan, pasti akan dibenci. Dan, jika objek itu tidak menimbulkan kesan apa-apa, pasti tidak akan dicintai atau dibenci.

Jika demikian, manusia baru akan mencintai sesuatu yang nikmat kalau ia sudah merasakan nikmatnya sesuatu itu. Yang dimaksud cinta di sini adalah rasa yang secara naluriah cenderung atau suka terhadap sesuatu tertentu. Sementara itu, yang dimaksud benci adalah rasa yang secara naluriah membuat berpaling dari sesuatu tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan, cinta adalah suatu ungkapan akan kecenderungan hati terhadap segala sesuatu yang menimbulkan kenikmatan dan kepuasan. Jika kecenderungan itu menguat dan bertambah besar, maka itu yang dinamakan dengan ‘isyq (cinta yang memabukkan). Bila demikian dengan cinta, maka benci adalah suatu ungkapan akan keberpalingan hati dari sesuatu yang menyakitkan dan membosankan. Jika kecenderungan negatif ini menguat, makan itu yang dinamakan dengan maqt (kebencian yang memuncak).

Prinsip kedua cinta adalah mengenal ragam cinta. Karena cinta muncul setelah terlebih dulu mengenal dan mengetahui, itu berarti cinta memiliki banyak ragam, sesuai dengan objek yang dikenal dan diketahuinya serta indra yang ada. Setiap indra mengenal hanya satu jenis objek. Masing-masing hanya merasa nikmat terhadap objek tertentu saja.

Nikmat yang dirasakan indra penglihat adalah memandang dan mengetahui objek yang indah serta gambar atau lukisan yang bagus, elok, dan mengesakan. Nikmat yang dirasakan indra pendengar adalah mendengarkan simfoni yang indah dan menggetarkan. Nikmat yang dirasakan indra pencium adalah mencium aroma yang harum. Nikmat yang dirasakan indra perasa dalah mencicipi makanan yang enak-enak. Nikmat yang dirasakan indra peraba adalah sentuhan-sentuhan halus dan lembut.

Karena masing-masing objek yang dikenal pancaindra itu menimbulkan kenikmatan tersendiri, ia pun dicintai oleh indra itu. Artinya, naluri sehat kita menyukainya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang aku cintai dari dunia ini: parfum, wanita, dan kenikmatan dalam salat.”[8] Dalam hadis ini parfum disebut sebagai sesuatu yang beliau cintai. Padahal seperti diketahui, parfum hanya dirasakan oleh indra pencium, bukan indra penglihat atau pendengar. Wanita juga disebut sebagai sesuatu yang beliau cintai. Padahal kita ketahui, yang merasakan nikmatnya wanita hanyalah indra penglihat dan peraba, bukan indra pencium, perasa, dan pendengar. Demikian pula salat disebut sebagai sesuatu yang paling beliau cintai. Padahal kita ketahui, yang merasakan nikmatnya salat itu bukan indra yang lima, tetapi indra keenam yang disebut dengan hati. Oleh karenanya, hanya orang yang mempunyai hati yang bisa merasakan betapa nikmatnya salat.

Indra yang lima dimiliki baik oleh manusia maupun binatang. Apabila cinta hanya sebatas apa yang dikenali pancaindra, maka timbul pertanyaan. “Mungkinkah Allah Swt. dicintai, sementara Dia tidak dapat dikenali lewat pancaindra dan tidak dapat digambarkan dalam khayal?” Lebih lanjut, jika hanya mengandalkan pancaindra, maka pertanyaanya, “Apa ciri khas manusia sebagai makhluk?” Manusia itu istimewa karena dilengkapi dengan fasilitas istimewa berupa indra keenam berupa akal, nur, hati, atau apa pun istilahnya.

Dengan demikian, pandangan mata batin jauh lebih kuat dibandingkan pandangan mata lahir. Hati memiliki kemampuan mengetahui yang jauh lebih besar dibandingkan mata. Keindahan rohani yang diperoleh dengan kekuatan akal jauh lebih mengesankan dibandingkan keindahan gambar atau lukisan yang ditangkap indra penglihat. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa kenikmatan yang dirasakan hati—setelah ia mengetahui berbagai nilai keagungan dan ketuhanan yang tidak mampu dicapai oleh pancaindra—jauh lebih sempurna dan lebih memuncak. Tak heran bila kecenderungan naluri dan akal sehat kepada yang demikian itu pasti lebih kuat. Dan, cinta tidak dapat diartikan lain kecuali sebagai kecenderungan atau kesenangan terhadap sesuatu yang diketahui bisa memberikan kenikmatan.

Prinsip ketiga adalah mengenali untuk siapa cinta itu diberikan. Seperti diketahui, manusia jelas mencintai dirinya sendiri. Jika ia mencintai orang lain, itu pun demi dirinya sendiri. Bisakah tergambar dalam pikiran kita, manusia mencintai orang lain demi orang lain, bukan demi dirinya sendiri? Saya yakin masalah ini akan sulit dipahami oleh orang yang kualitas pemikirannya masih dangkal. Bahkan, bagi orang yang demikian, sungguh tidak masuk akal membayangkan seseorang mencintai orang lain demi orang lain itu. Tidak ada timbal balik apa pun terhadap orang yang mencinta itu kecuali semata-mata karena dia mengenal orang lain yang dicintainya itu. Tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Dia. Dia itu Allah Swt.

E. Cerita Cinta Pecinta

1. Rabial Al-Adawiyah (95-185 H/713-801 M)

Menurut Rabiah cinta kepada Allah Swt. adalah memusatkan seluruh jiwa kepada Allah Swt. Untuk membuang segala yang lain. Hal ini terlihat dalam setiap puisi-puisi yang dilantunkannya. Rabiah selalu melantunkan sebuah puisi yang berisi sebuah kritikan sosial. Ia selalu mengingatkan kepada umat manusia bahwa janganlah beribadah kepada Allah hanya mengharap surga dan takut akan surga. Beribadahlah kepada Allah hanya karena cinta dan rindu kepada-Nya. Suatu ketika, Al-Tsawri bertanya kepada Rabi‘ah, “Apa hakikat imanmu?” Dia menjawab, “Aku tidak menyembah-Nya karena takut neraka atau berharap surga. Aku tidak seperti buruh jahat. Aku menyembah-Nya semata karena cinta dan rindu pada-Nya.” Adapun puisi-puisi itu sebagai berikut:

Aku mengabdi kepada Allah bukan karena takut kepada neraka

Dan bukan pula karena ingin masuk surga

Aku hanya mengabdi karena cintaku dan rinduku kepada-Nya

***

Tuhanku jika aku memuja Engkau karena takut neraka

Maka bakarlah aku di dalamnya

Dan jika aku memuja kepada Engkau karena mengharap surga

Maka jauhkanlah aku darinya

Akan tetapi jika aku memuja hanya semata-mata karena Engkau

Maka janganlah Engkau sembunyikan kecantikan yang kekal itu

Perasaan cinta yang telah meresap ke dalam lubuk hati Rabiah menyebabkan ia mengorbankan hidupnya semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt. Cinta Rabiah kepada Allah Swt. merupakan cinta suci, murni, dan sempurna seperti yang disenandungkan dalam syairnya sebagai berikut:

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta:

Cinta egois (hawa) dan cinta yang layak Engkau terima

Cinta egosi adalah cintaku dalam mengingat-Mu dan tiada lagi yang lain

Tetapi demi cinta yang layak Engkau terima

Engkau akan sibakkan selubung itu agar aku melihat-Mu

Tiada pujian untukku dalam cinta mana pun

Segala puji itu milik-Mu dalam cinta yang ini dan cinta yang itu.

Buah hatiku hanya Engkaulah yang kukasihi

Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu

Engkaulah harapnku, kebahagianku, dan kesenanganku

Hatiku enggan mencintai selain Engkau

Cinta yang mendalam kepada Allah Swt. begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga ia selalu menolak seluruh tawaran menikah baik tawaran yang berasal dari gubernur sekalipun maupun tokoh sufi terkemuka. Dirinya hanya milik Allah yang dicintainya.

Ada sebuah pertanyaan yang menghampirinya, “Apakah engkau membenci setan?” dia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan.” Demikian pula ketika ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw. Rabiah menjawab, “Saya cinta kepada Nabi Muhammad Saw. siapa yang tidak mencintai Nabi dari seluruh alam ini? Tetapi cinta yang aku persembahkan kepada Allah Swt. memalingkan diriku dari cinta kepada hambanya.”

Rabiah adalah sosok yang selalu terlihat sedih dan banyak menangis. Setiap kali dia mendengar neraka disebutkan, dia langsung pingsan pada saat itu juga. Dia berkata, “Istigfar tidak memerlukan istigfar lainnya.” dia juga selalu menolak pemberian orang kepadanya dan berkata, “Aku tidak lagi memerlukan dunia.”

Suatu hari Rabi‘ah al-‘Adawiyyah berkata, “Siapa yang dapat menunjukkan saya bertemu Sang Kekasih?” Pelayannya menjawab, “Sang Kekasih bersama kita, tetapi dunia menghalangi kita bertemu dengan-Nya.”

Suatu saat Rabi‘ah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang surga?” Dia menjawab, “Pasangan dan rumah.” Kemudian ia menambahkan, “Hatiku tak pernah menoleh ke surga. Aku terfokus kepada Sang Pemilik surga. Siapa saja tidak mengenal Allah di dunia, maka ia tidak akan mengenal-Nya besok di akhirat. Siapa yang tidak memperoleh kenikmatan makrifat di dunia, maka ia tidak akan memperoleh kenikmatan menatap wajah Allah besok di akhirat. Sebab, tidak ada yang muncul tiba-tiba di akhirat. Semua harus dibawa dari dunia. Seseorang tidak akan menuai selain apa yang ia tanam. Pada Hari Kiamat nanti setiap orang akan dikumpulkan sesuai dengan bagaimana keadaan ketika ia menyambut kematian, karena semua manusia akan mati sesuai keadaan ketika ia menjalani kehidupan.”

2. Jalaludin Ar-Rumi (604-670 H/1207-1273 M)

Cinta adalah realitas abadi, namun ia cenderung memudar dan menghilang. Cinta sejati bergantung pada pemahaman.

Cinta adalah api berkobar

Pecinta adalah buah kemilau di antara bintang-bintang (Rumi)

***

Tanah bukanlah debu

Tapi kapal yang bersimbah darah, darah pecinta

Tanpa kata-kata-Mu jiwaku kehilangan telinga

Tanpa telinga-Mu jiwaku kehilangan lidah

Pada kutipan “Tanah bukanlah debu” Rumi menggunakan imaji-imaji yang dramatis dan jarang digunakan oleh penyair sufi yang lain. Coba kita perhatikan kutipan puisi di atas. Cinta itu menuntut pengorbanan yang besar

Rumi menyatakan melalui puisi-puisinya bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin lewat cinta, bukan semata-mata dengan kerja yang bersifat fisik. Cinta manusia, menurut Rumi mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: Pertama, memuja segala hal, yaitu orang, wanita, harta dan tahta. Kedua, memuja Tuhan. Ketiga, cinta mistis, yaitu seseorang tidak mengatakan ia memuja Tuhan atau tidak. Tahapan ketiga ini, memberikan pengertian Tuhan menjadi berbeda dengan pengertian orang atheis yang penuh kontradiksi.

Menurut Rumi, manusia senatiasa tidak puas. Nafsunya selalu ingin terpenuhi. Karena, itu ia harus bertarung melalui segala usaha dan ambisi. Namun, baru dalam hal cintalah ia akan menemukan kepuasaan.

Cinta adalah sesuatu yang sungguh-sungguh, karena itu membutuhkan kesungguhan pula. Dan cara yang baik harus ditempuh untuk mencapainya, seperti ia tulis dalam puisinya:

Air butuh perantara supaya panas
Yaitu periuk dan api

Cinta yang dimaksud Rumi disini termasuk lenyapnya ke-diri-an, yaitu kesatuan sempurna kekasih Tuhan, dengan Tuhan. Ketiadaan diri, yang menjadi hakekat cinta kesufian adalah terjemahan mistis dan kreatif dari hadis Nabi yang menyebutkan bahwa “Kemiskinan adalah tetanggaku.” Kemiskinan di sini diartikan sebagai kemiskinan diri atau ketiadaan diri serta terkendalinya hawa nafsu keduniawian. Dengan ketiadaan diri berarti terbuka bagi memancarnya cahaya Ilahi. Bukankah ketiadaan diri berarti hanya Tuhan yang ada?

Jadi tujuan peniadaan diri ini, tiada lain adalah untuk memperterang jalan yang akan ditempuh menuju ke pemahaman kenyataan bahwa tidak ada wujud hakiki kecuali Tuha. “Aku Tiada,” berarti, “Tuhan adalah segala-galanya.” Rumi melukiskan cinta kerohanian semacam ini dalam puisinya:

Dari tubuh Kau jauh, tapi dalam hatiku ada jendela menghadap-Mu
Lewat rahasi jendela itulah, seperti bulan, kukirim pesan kepada-Mu

Bagi sufi hanya hatilah tempat menerima kehadiran Tuhan. Bukan akal. Hal ini sering kali diucapkan oleh Rumi dalam puisi-puisinya.

Karena cinta

Kematian berubah menjadi kehidupan

Puisi tersebut, mengingatkan kita pada kisa Al-Hallaj yang telah dipenggal. Bagi seorang sufi, kematian adalah suatu tanda kehidupan yang baru. Kematian yang dimaksud adalah kematian dalam mencapai makrifat. Karena, hidup sebagai orang biasa yang terikat pada dunia semata adalah fana, sedangkan hidup dalam api ketuhanan bersifat kekal. Hal ini juga diungkapkan oleh Rumi dalam puisi-puisinya:

Bila seseorang memperoleh wujud luar seperti musim dingin

Ia punya harapan memperoleh musim semi di dalam dirinya sendiri

Ungkapan musim dingin menunjuk pada beku, mati sebelum seseorang mati. Maksudnya lenyap keinginan dunianya, dan telah berada dalam kondisi kezuhudan, mekipun tetap menjalankan kehidupan di dunia dengan kewajiban-kewajiban sebagai manusia.

Siapasaja menuju kekasih Ilahi

Ia memuja cahaya Ilahi dalam dirinya

Siapasaja memuja matahari

Ia memuja matanya sendiri

Matahari di sini adalah perlambang dari penglihatan batin dan cahaya ketuhanan, dan Rumi tidak mengajak kita melakukan pemujaan seperti orang Politeis di Mesir atau India.

Hati ngilu inilah yang memberingkan birahi telanjang pencinta

Tiada sakit dengan hati yang menyembuhkan luka seperti itu

Cinta adalah rasa pilu karena berpisah

Dan bola kaca rahasia-rahasia Tuhan.

Apakah ia buatan langit ataupun bumi

Cinta akan membimbing kita ke sana pada akhirnya

Pikiran akan gagal menerangkan cinta

Seperti keledai di Lumpur: cinta sendirilah pengurai cinta

Tidakkah matahari sendiri yang menerangkan matahari?

Kenali ia! Seluruh bukti yang kau cari ada di sana

 

3. Abu Bakar

Rasulullah saw. suatu kali berkata kepada Abu Bakr, “Sesungguhnya, Allah Swt. telah memberimu keimanan seperti keimanan seluruh umatku yang beriman kepadaku. Dia memberiku keimanan seperti keimanan seluruh anak-cucu Adam yang beriman kepada-Nya.”[9]

Dalam hadis lain, beliau juga bersabda kepada Abu Bakr, “Allah mempunyai tiga ratus perangai akhlak. Siapa saja yang dikaruniai salah satu perangai akhlak-Nya itu diserti tauhid, maka ia dijamin masuk surga.” Abu Bakr bertanya, “Rasulullah, apakah salah satu perangai akhlak-Nya itu ada padaku?” Beliau menjawab, “Semua ada padamu, wahai Abu Bakr. Salah satu yang paling dicintai Allah adalah kedermawanan.”[10]

Beliau juga bersabda, “Aku melihat timbangan digantung dari langit. Aku diletakkan di satu anak timbangan, sedangkan umatku di letakkan di anak timbangan satunya lagi. Ternyata aku lebih berat dibandingkan dengan mereka semua. Lalu, Abu Bakr diletakkan di satu anak timbangan, sedangkan umatku dikumpulkan lalu diletakkan di anak timbangan satunya lagi. Ternyata ia juga lebih berat dibandingkan dengan mereka semua.”[11]

Namun bersama itu semua, hati beliau sudah tenggelam habis dalam Allah sehingga tak ada lagi celah sedikit pun bagi selain Dia. Tidak heran bila beliau bersabda, “Kalau aku boleh menjadikan manusia sebagai temanku, pasti aku menjadikan Abu Bakar sebagai temanku. Namun, teman kalian ini adalah teman Allah Swt.”[12] Maksudnya, diri beliau sendiri.

4. Kisah Seorang Arif

Seseorang berkata kepada salah seorang arif, “Bukankah kamu seorang pencinta?” Dia menjawab, “Tidak, aku bukan seorang pencinta, tetapi akulah kekasih yang dicinta. Seorang pencinta tersiksa oleh rasa lelah.” Orang itu berkata lagi, “Banyak orang berkata bahwa kamu adalah salah satu dari tujuh wajah dirimu sendiri.” Dia menjawab, “Aku adalah ketujuh wajah itu secara utuh.”

Dia juga pernah berkata, “Jika kamu melihat diriku, maka pasti kamu akan melihat empat puluh wajah.” Lalu ia ditanya, “Bagaimana bisa, sedangkan kamu hanya satu?” Ia menjawab, “Sebab, aku melihat empat puluh wajah. Setiap wajah adalah cermin dari akhlak-Nya.”

Ada orang bertanya, “Aku dengar kamu melihat Khidir as.” Mendengar pertanyaan itu, ia tersenyum, lalu berkata, “Orang yang melihat Khidir itu tidak aneh. Yang aneh justru kalau Khidir ingin melihat orang itu, tetapi Khidir tak bisa melihatnya.”

Diceritakan bahwa Khidir pernah berkata, “Sehari pun belum pernah terjadi ada wali Allah yang tidak aku ketahui. Sampai pada suatu hari aku melihat seorang wali yang tidak aku kenali.”

Dalam salah satu keterangan disebutkan bahwa Allah Swt. berkata kepada salah seorang nabi, “Sesungguhnya, orang yang Aku jadikan sebagai teman-Ku hanyalah orang yang tak kenal lelah berzikir mengingat-Ku, tak punya keinginan lain selain Aku, dan tak pernah mendahulukan apa pun dari makluk-Ku sebelum Aku. Jika ia dibakar dengan api, maka ia tak merasa sakit. Jika ia dipotong-potong dengan gergaji, maka ia tidak merasa sentuhan besi itu menimbulkan rasa sakit. Lalu, orang yang kualitas cintanya tidak mencapai taraf seperti ini, bagaimana mungkin ia dapat mengetahui karamah dan mukasyafah yang ada di balik iman? Semua itu terdapat di balik cinta, sedangkan cinta terdapat di balik iman yang sempurna. Sementara itu, maqam-maqam iman dan perubahannya menjadi berkurang atau bertambah tidak terhitung jumlahnya.”

F. Komentar Cinta dari Para Pencinta

Abu Sofyan berkata, “Cinta adalah mengikuti Rasulullah saw.” Yang lain berkata, “Cinta adalah tenggelam selamanya dalam zikir mengingat Allah.” Yang lain lagi berkata, “Cinta adalah mengutamakan Sang Kekasih.” Sebagian yang lain lagi berkata, “Cinta adalah kebencian terhadap keabadian hidup di dunia.”

Itu semua merupakan ungkapan yang merujuk pada buah dari cinta. Mengenai substansi dari cinta itu sendiri, mereka cenderung tutup mulut dan tidak berani melukiskan dengan kata-kata. Salah seorang sufi berkata, “Hakikat makna cinta bersumber dari Sang Kekasih. Hati tak mampu menangkapnya. Lidah juga tak mampu mengungkapkannya.”

Al-Junaid berkata, “Allah mengharamkan cinta bagi orang yang di hatinya masih terdapat ketergantungan kepada selain Dia.” Masih kata al-Junayd, “Cinta adalah kesetiaan. Jika kesetiaan telah hilang, maka hilanglah rasa cinta.” Dzu al-Nun al-Mishri berkata, “Katakan kepada orang yang menunjukkan rasa cinta kepada Allah Swt., ‘Hati-hati, jangan sampai tunduk kepada selain Allah.’”

Al-Syibli berkata dalam senandung syair berikut:

Wahai Tuan Yang Mulia

Cinta-Mu menancap di pangkuan hamba

Wahai Yang mengangkat kantuk dari pelupuk mata

Engkau Mahatahu apa yang terlintas dalam dada

Yang lain juga bersyair:

Aku salut pada siapa yang berkata,

“Kuingat Karibku senantiasa”

Pernahkah aku melupakan Dia?

Aku akan ingat apa yang kulupa!

***

Aku telah mati

Begitu mengingat-Mu hidup kembali

Kalau bukan karena baik sangka

Mana mungkin aku kembali bernyawa?

***

Aku hidup karena secercah harapan

Aku mati karena segudang kerinduan

Berapa kali sudah aku hidup karena-Mu

Berapa kali sudah aku mati karena-Mu

***

Kuteguk cinta, gelas demi gelas

Tak habis-habis, tak puas-puas

Semoga membayangkan Dia

Dia hadir di depan mata

Sebab jika tak kulihat Dia

Pasti aku menjadi buta

Ibn al-Jala’ rahimahu Allah bercerita, “Allah mewahyukan kepada ‘Isa, ‘Sungguh, jika Aku menampakkan diri dalam rahasia hati seorang hamba, maka pasti tak akan Kutemukan lagi rasa cinta kepada dunia dan akhirat dalam hatinya. Sebab, Aku sudah memadatinya dengan cinta-Ku dan Aku kepung dia dengan penjagaan-Ku.’”

Ibrahim ibn Adham berkata, “Tuhanku, Engkau tahu bahwa surga tak sebanding dengan selembar sayap nyamuk pun bagiku di sisi cinta yang Engkau anugerahkan padaku, Engkau bahagiakan aku dengan zikir menyebut-Mu, dan Engkau lapangkan aku untuk memikirkan kebesaran-Mu.”

Al-Sarri rahimahu Allah berkata, “Siapa yang mencintai Allah, maka ia pasti hidup. Siapa mencintai dunia, maka ia pasti terkebiri. Orang bodoh, pagi dan sore, senantiasa lalai. Orang berakal senantiasa memeriksa aib dan kekurangannya.”

Nabi ‘Isa pernah ditanya mengenai amal paling utama di sisi Allah. Beliau menjawab, “Rida dan cinta kepada Allah.”

Abu Yazid Al-Busthami berkata, “Seorang pencinta adalah orang yang tidak mencintai dunia atau akhirat. Ia hanya mencintai Sang Tuan, hanya Sang Tuan.”

Al-Syibli berkata, “Cinta itu nikmatnya begitu dahsyat, namun keagungannya begitu membigungkan.”

Konon, cinta tidak mementingkan diri sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun dalam diri, dari diri, untuk diri. Cinta adalah keakraban hati dengan Sang Kekasih, diliputi perasaan senang dan bahagia.

Al-Khawwash pernah berkata, “Cinta adalah menghapus segala keinginan, juga membakar seluruh sifat dan kebutuhan.”

Sahl pernah ditanya tentang cinta. Ia menjawab, “Belas kasih Allah dalam hati hamba-Nya, agar ia dapat menyaksikan-Nya setelah memahami maksud dan keinginan dari-Nya.”

Harm ibn Hayyan berkata, “Ketika mengenal Tuhannya, seorang mukmin pasti akan mencintai-Nya. Ketika sudah mencintai-Nya, ia pasti akan datang menghadap kepada-Nya. Ketika ia merasakan manisnya menghadap kepada-Nya, ia pasti tidak memandang dunia dengan mata bernafsu dan tidak memandang akhirat dengan mata berbunga-bunga. Memang, di dunia begitu meletihkan, tetapi di akhirat begitu menyenangkan.”

‘Abdullah ibn Muhammad bertutur, “Aku pernah mendengar seorang wanita ahli ibadah berkata dalam isak tangis dan air mata bercucuran di pipinya, ‘Demi Allah, aku sudah bosan hidup. Andai maut diperjualbelikan, pasti sudah kubeli, demi cinta dan kerinduanku bertemu dengan-Nya.’ Lalu aku bertanya, ‘Kamu begitu percaya dengan amalmu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, aku hanya mencintai-Nya, berbaik sangka pada-Nya. Kubiarkan Dia menyiksaku, yang penting aku mencintai-Nya!’”

Allah mewahyukan kepada Dawud as., “Kalau saja orang yang merenungkan Aku itu tahu, betapa Aku menunggu kedatangan mereka, betapa Aku selalu menemani mereka, dan betapa Aku rindu untuk menyingkirkan kemaksiatan dari mereka, maka pastilah mereka akan mati karena rindu bertemu Aku. Tulang-belulang mereka juga pasti terpotong-potong karena kecintaan mereka kepada-Ku. Wahai Dawud, inilah kehendak-Ku terhadap orang-orang yang merenungkan Aku. Bayangkan, bagaimana kehendak-Ku kepada orang-orang yang menghadap Aku? Wahai Dawud, sesuatu yang paling aku butuhkan dari seorang hamba adalah ketika ia tak lagi membutuhkan Aku (untuk memenuhi keinginannya itu). Sesuatu yang paling aku sayangi pada hambaku adalah ketika ia merenungkan Aku. Dan, sesuatu yang paling agung bagiku adalah ketika ia kembali kepada-Ku.”

Abu Khalid al-Shaffar bercerita, “Salah seorang nabi bertemu dengan seorang ahli ibadah. Ia berkata, ‘Kalian, wahai hamba-hamba Allah, telah melakukan amal yang tidak pernah dilakukan kami para nabi. Kalian melakukan amal karena takut dan berharap sesuatu, sementara kami melakukan amal karena cinta dan kerinduan.’”

Al-Syibli rahimahu Allah bertutur, “Allah mewahyukan kepada Dawud, ‘Wahai Dawud, Aku hanya ingat kepada orang yang mengingat-Ku. Surga-Ku hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang taat. Aku hanya berkunjung kepada orang-orang yang merindukan Aku. Secara khusus, Aku adalah milik orang-orang yang mencintai-Ku.”

Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Adam as., “Wahai Adam, siapa saja yang mencintai Sang Kekasih, maka ia pasti membenarkan apa pun yang diucapkan. Siapa saja yang merasa damai bersama Sang Kekasih, maka ia pasti rida terhadap apa pun yang dilakukan. Siapa saja yang betul-betul merindukan-Nya, maka ia pasti berjalan menemui-Nya tanpa kenal lelah.”

Al-Khawash rahimahu Allah memukul-mukul dadanya dan berkata, “Alangkah rindunya hati ini kepada Zat yang melihatku, tetapi aku tak melihat-Nya.”

Al-Junayd rahimahu Allah bertutur, “Yunus as. menangis hingga buta, berdiri hingga doyong, dan bersalat sampai terduduk, seraya berkata, ‘Demi kemulian dan keagungan-Mu, andai antara aku dan Engkau terbentang lautan api, maka pasti kuarungi demi kerinduanku pada-Mu.”

‘Ali karrama Allah wajhah bercerita, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sunah beliau. Beliau menjawab, ‘Makrifat adalah harta kekayaanku, akal adalah pangkal agamaku, cinta adalah asasku, kerinduan adalah kendaraanku, zikir mengingat Allah adalah kedamaianku, kepercayaan adalah harta simpananku, kesedihan adalah sahabatku, ilmu adalah senjataku, kesabaran adalah selendangku, rida adalah harta rampasan perangku, kelemahan adalah kebanggaanku, zuhud adalah mata pencahariaanku, keyakinan adalah kekuatanku, kejujuran dan penolongku, ketaatan adalah kecintaanku, perjuangan adalah akhlakku, dan puncak kesenanganku dalam salat.’”[13]

Dzu al-Nun al-Mishri berkata, “Mahasuci Zat yang menjadikan ruh sebagai bala tentara. Ruh para arif begitu agung dan suci. Oleh karena itu, mereka rindu bertemu Allah Swt. Ruh orang mukmin bersifat rohaniah. Mereka mengelu-elukan surga, sedangkan ruh orang-orang lupa bersifat hawa nafsu. Oleh karena itu, mereka condong menyukai dunia.”

Salah seorang syekh pernah melihat seorang laki-laki di Gunung Likam. Ia berkulit sawo matang, tubuhnya lemah, melompat dari satu batu ke batu lainnya. Kudengar lelaki itu bersenandung berikut:

Cinta dan kerinduan

Telah membuat aku jadi begini

Seperti yang kau lihat ini

Ada yang mengatakan, “Kerinduan adalah bola api yang dinyalakan Allah dalam hati kekasih-kekasih-Nya dan membakar seluruh isi yang ada: berjuta kecemasan, bermacam keinginan, berbagai rintangan, dan beragam kebutuhan.

 


DAFTAR PUSTAKA

Alquranul-Karim

Muslim, Imam, Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

Al-Bukhari, Imam, Shahih Al-Bukhari, Beirut: Dar al-Fikr, t.th

Nasa’i, Imam, Sunan Nasa’I, Beirut: Dar al-Jail, t.th

Tirmizi, Imam, Sunan Tirmizi. Semarang: Thaha Putera, t.th

W. M., Abdul Hadi, “Rumi Sufi dan Penyair” Bandung: Penerbit Pustaka, 1985.

Lawrence, Bruce B., “The Heritage of Sufism; Classical persian from it Origin to Rumiterj. Ribut Wahyudi, judul, “Cinta, guru, dan Kewalian” Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003

Al-Sya’rani, ‘Abd Wahhab, “Tabaqatul-Kub Al-Musamat bi lawaqih Al-Anwar fi Tabaqatil-Akhyarterj. Syarif Hade Masyah, Lc., M.Hum, judul, “Beranda Sang Sufi” Jakarta: Hikmah-Mizan, 2003

Al-Ghazali, Imam Muhammad, “al-Mahabbah wasy-Syawq wal-Uns war-ridhaterj. Asyari Khatib, judul, “Rindu Tanpa Akhir” Jakarta: Serambi, 2005

Redaksi, Team, Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002

Siregar, Prof. H. A. Rivay, “Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme” cet. Kedua, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000


[1] QS. 3:31

[2] QS. 5:54

[3] HR. Al-Bukhari dan Hanbali.

[4] HR. Ahmad dengan beberapa tambahan di awal hadis.

[5] HR.Al-Bukhârî dan Muslim melalui jalur Anas.

[6] HR. Al-Tirmidzî melalui jalur Ibn ‘Abbâs. Menurutnya, kualitas hadis ini hasan gharîb (baik dan langka).

[7] Hadis ini tidak ditemukan sumbernya.

[8] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Nasâ’î melalui jalur Anas, tanpa kata “tiga”.

[9] Hadis ini diriwayatkan oleh Abû Manshûr al-Daylamî dalam Musnad al-Firdaws melalui jalur al-Hârits al-A‘war, dari ‘Alî (urutan redaksi bisa bertukar di depan atau di akhir). Untuk diketahui, al-Hârits itu rawi dha‘îf (lemah).

[10] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrânî dalam Al-Mu‘jam al-Awsath melalui jalur Anas secara marfû’ dari firman Allah (dalam hadis qudsî), “Aku menciptakan sejumlah tiga ratus sepuluh macam akhlak. Siapa saja yang memiliki satu saja di antara akhlak itu disertai kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, maka ia pasti masuk surga.” Hadis yang melalui jalur Ibn ‘Abbâs redaksinya sebagai berikut: “Islam terdiri dari tiga ratus tiga belas syariat.” Selain dalam Al-Mu‘jam al-Awsath, juga dalam Al-Mu‘jam al-Kabîr, melalui jalur al-Mughîrah ibn ‘Abd al-Rahmân ibn ‘Ubayd, dari ayahnya, dan dari kakeknya terdapat redaksi serupa dengan kata “iman”. Versi al-Bazzâr melalui jalur ‘Utsmân ibn ‘Affân redaksinya sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus tujuh belas syariat ….” Dalam semua riwayat yang satu sebutkan ini tidak satu pun yang memuat pertanyaan Abû Bakr dan jawaban Rasulullah, tetapi kualitas semua hadis ini dha‘îf.

[11] Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad melalui jalur Abû Umâmah, dengan sanad dha‘îf.

[12] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhârî dan Muslim.

[13] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Qâdhî ‘Iyâdh melalui jalur ‘Alî ibn Abî Thâlib. Sayang, tidak ditemukan sanadnya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.