TASAWUF MEMBENTUK PRIBADI MULIA

September 19, 2007 at 7:23 am (Uncategorized)

TASAWUF MEMBENTUK PRIBADI MULIA

Oleh: Cholil Eren Masyah

 Segala puji bagi Allah. Dialah yang telah menyucikan hati para kekasih-Nya sehingga tidak tertarik sama sekali terhadap pesona keindahan dunia. Dialah yang telah membersihkan nurani mereka sehingga tidak terpesona terhadap apa pun selain haribaan-Nya. Dialah yang memurnikan hati nurani mereka untuk beriktikaf lama di atas hamparan kemuliaan-Nya. Setelah itu, Dia menampakkan diri-Nya di hadapan mereka lewat beragam asma dan bermacam sifat-Nya. Cahaya makrifat pun lalu memancar dari hati mereka. Dia juga menyibak tabir wajah-Nya sehingga terbakarlah nurani mereka dengan api cinta. Hati mereka tertutupi oleh hakikat keagungan-Nya dan hilang ingatan terhadap segala. Yang ada hanyalah hamparan kebesaran dan keagungan-Nya.

Setiap kali hati para kekasih Allah itu berguncang hendak menyatukan segenap perhatian kepada substansi keagungan-Nya, seketika itu juga hati mereka tertutup debu kebingungan yang menebal di seluruh penjuru akal. Setiap kali hati mereka hendak berpaling putus asa, tiba-tiba terdengar panggilan dari tenda-tenda keindahan, “Wahai, orang yang berputus asa! Bersabarlah untuk meraih kebenaran yang belum engkau kenal, tetapi sudah begitu tergesa untuk engkau gapai.” Hati mereka pun terombang-ambing antara ditolak dan diterima, antara terhalang dan tercapai. Tenggelam dalam lautan makrifat dan terbakar dalam api cinta yang menjilat-jilat.

            Salawat dan salam Allah—mudah-mudahan—melimpah abadi kepada Muhammad, Sang Nabi Pamungkas dengan risalah kenabian yang paripurna. Juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, tuan, imam, dan pemandu kebenaran sejati dari segenap makhluk dunia.

            Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya. Bahkan, Ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. Tentu hal itu, tidak dapat dilaksanakan dengan mudah. Seseorang yang ingin mencapai tingkat dapat bertemu dengan Tuhan haruslah melewati beberapa ujian-ujian dan pelatihan-perlatihan (riyadhah). Untuk mencapai rida Tuhan dan mendekat pada-Nya juga, seorang calon sufi harus dapat terlebih dahulu menempuh makam sehingga ia dapat mencapai tingkat yang tinggi dan diridai-Nya. Makam adalah suasana kerohanian yang ditunjukkan oleh seorang sufi, berupa pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah.

            Tasawuf erat sekali hubungannya dengan akhlak. Karena tasawuf adalah sebuah akhlak. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Maka, saya sebagai penulis mengajak kepada pembaca untuk menyimak penjelasan yang akan dipaparkan nanti.

 

Pamulang, 14 Januari 2007

I. PENGERTIAN TASAWUF

            Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya[1]. Dari segi bahasa terdapat beberapa kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Harun Nasution menyebutkan lima istilah yang berkenaan dengan definisi tasawuf, sebagai berikut;
1.      Shafa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadah, terutama salat dan puasa.
2.      Shaf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat Alquran dan berzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. 
3.      Ahlu al-Shuffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah (pelana) sebagai bantal. Ahlu al-Suffah memiliki sifat baik hati serta mulia dan tidak mementingkan dunia. 
4.      Sophos (bahasa Yunani) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. 
5.      Shulf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini   melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.
            Diantara semua pendapat itu, pendapat yang terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Jadi, sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam Ruhani. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.150 H).

            Dari segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana.[2] Sikap yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu membentuk seseorang ke tingkat yang mulia.

            Dengan kata lain, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental Ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf yang menjadikan mental ruhani untuk dapat mendekatkan diri dengan Allah Swt.[3]Seseorang yang dekat dengan Allah Swt., ia adalah sang kekasih. Kekasih akan lebih dilindungi, diridai, dan dikabulkan segala yang diminta oleh kekasih-Nya.

II. TUJUAN TASAWUF

            Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan Ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. 

            Al-Ghazali mengatakan bahwa tasawuf itu adalah tuntunan yang dapat menyampaikan manusia mengenal dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt[4].

            Tasawuf diciptakan sebagai media untuk mencapai maqashid al-Syar’i (tujuan-tujuan syara’)[5]. Sebagai contoh, setiap orang yang diperintahkan naik ke atas atap rumah, maka secara tidak langsung ia mencari media yang dapat digunakan untuk melaksanakan tugas itu, yakni tangga. Sufisme itu diciptakan untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:[6]

  1. Berupaya menyelamatkan diri dari akidah-akidah syirik dan batil
  2. Melepaskan diri (takhalli) dari penyakit-penyakit kalbu.
  3. Menghiasi diri (tahalli) dengan akhlak Islam yang mulia.
  4. Mencapai derajat ihsan dalam ibadah (tajalli).
  5. Menggapai kekuatan dan keluhuran iman yang dulu pernah dimiliki para sahabat Rasulullah Saw.

 

III. DASAR TASAWUF

            Dasar-dasar tasawuf telah ada sejak datangnya agama Islam, hal ini dapat diketahui dari kehidupan Rasulullah Saw. cara hidup beliau yang kemudian diteladani dan diikuti oleh para sahabat. Selama periode Makah, kesadaran spiritual Rasulullah Saw. adalah berdasarkan atas pengalaman-pengalaman mistik yang jelas dan pasti, sebagaimana dilukiskan dalam Alquran surat An-Najm: 11-13; Surat At-Takwir: 22-23. Kemudian ayat-ayat yang menyangkut aspek moralitas dan asketisme, sebagai salah satu masalah prinsipil dalam tasawuf, para sufi merujuk kepada Alquran sebagai landasan utama. Karena manusia mempunyai kecenderungan sifat baik dan sifat jahat, sebagaimana yang dinyatakan. “Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,[7] maka harus dilakukan pengikisan terhadap sifat yang jelek dan pengembangan sifat-sifat baik, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,[8] Berdasarkan ayat ini, serta ayat yang senada, maka dalam tasawuf dikonsepkanlah teori tazkiyah al-Nafs (penyucian jiwa).

Al-Ghazali membagi penyucian jiwa menjadi empat tahapan[9]:

  1. Bersih badan secara lahiriyah, seperti bersis dari kotoran, dan dari sesuatu yang najis.
  2. Bersih dari semua perbuatan dosa dan kesalahan.
  3. Bersih jiwa dari perbuatan yang tercela dan rendah.
  4. Suci jiwa dari bentuk kesyirikan. Yaitu, mengabdikan diri kepada selain Allah Swt.
 
IV. ASAL-USUL TASAWUF
            Tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen, filsafat Yunani dan agama Hindu dan Budha, muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun  pasir Arabia. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Di siang hari, kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan; dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Rahib-rahib itu berhati baik, dan pemurah dan suka menolong. Sufi juga mengasingkan diri dari khalayak ramai. Mereka adalah orang yang berhati baik, pemurah dan suka menolong. 
            Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Dalam filsafatnya, Ruh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci, kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Ruh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada filsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Filsafat sufi juga demikian. Ruh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam Ruhani yang suci, tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci, Ruh yang telah kotor itu dibersihkan dahulu melalui ibadah yang banyak serta melewati beberapa ujian-ujian dari mulai membersihkan diri dari segala dosa hingga mencapai rida Ilahi.
            Dari agama Budha, pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia, memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad[10].
            Kita perlu mencatat, agama Hindu dan Budha, filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. 
            Hakekat tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam ajaran Islam, Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebutkan Alquran dan Hadits. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil."[11]
            Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia, "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya.”[12] Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia, tetapi di dalam diri manusia sendiri. 
            Disini, sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia, tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut, “Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Kuciptakan makhluk, dan melalui mereka Aku pun dikenal.”
            Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu, dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad, maka hadis terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud[13], kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan.
            Demikianlah ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Dengan khusuk dan banyak beribadah ia akan merasakan kedekatan Tuhan, lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan Ruhnya dengan Ruh Tuhan; dan inilah hakikat tasawuf.
 
V. MAKAMAT[14]
            Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Bertahun-tahun seseorang harus menempuh jalan yang sulit itu. 
            Jalan itu disebut tarekat atau dalam bahasa Arab thariqah. Intinya menjalankan tarekat adalah penyucian diri, yang oleh kaum sufi disebut sebagai makamat. Bentuk penyucian diri tersebut dilakukan melalui ibadah-ibadah, terutama puasa, salat, membaca Alquran dan zikir. 
 
Tingkatan-Tingkatan yang Ditempuh Sufi
            Tingkatan pertama yang harus dilakukan calon sufi adalah tobat dari dosa-dosanya. Baik dosa besar maupun dosa kecil. Dalam melaksanakan tobat tidak hanya sesuatu yang dilarang saja yang ditinggalkan, tindakan yang makruh atau pun syubhat juga harus ditinggalkan. Hal ini bisa disebut sebagai tobat nasuha, yaitu tobat yang membuat manusia menyesal dan jera atas dosa-dosanya yang lampau, serta betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. 
            Tingkatan kedua, yaitu zuhud. Di tingkatan ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan khalayak umum. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat, puasa, salat, membaca Alquran dan zikir. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah, dan  membuat ia tahan lapar dan dahaga. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. Pakaiannya pun sederhana. Ia menjadi orang zahid dari dunia, orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Yang dicarinya ialah kebahagiaan Ruhani.
            Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi, ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Ia terus banyak berpuasa, melakukan salat, membaca Alquran dan berzikir. Ia juga akan selalu naik haji. Sampailah ia ke tingkatan wara'. Di tingkatan ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. 
            Dari tingkatan wara', ia pindah ke tingkatan faqr. Di tingkatan ini ia menjalani hidup kefakiran. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan.
            Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke tingkatan sabar. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang penuh godaan, tetapi juga sabar dalam menerima cobaan-cobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan, bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia sabar menderita.
            Selanjutnya ia pindah ke tingkatan tawakal. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari esok; baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. 
            Dari tingkatan tawakal, ia meningkat ke tingkatan rida. Dari tingkatan ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Ketika malapetaka turun, hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan.
            Tingkatan-tingkatan di atas merupakan sebuah metode penyucian diri. Seorang yang telah melewatinya belum bisa dianggap sebagai sufi, tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Seseorang akan menjadi sufi setelah ia sampai ke tingkatan berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf.

            Keterangan di atas menjelaskan bahwa seorang sufi, senantiasa melakukan ujian-ujian yang harus dilewati dengan berbagai ujian yang menjadikan dirinya dekat dengan Tuhan. Untuk dekat dengan Tuhan diperlukan sebuah kesucian hati dari segala sifat tercela.

 

VI. PEMBAGIAN TASAWUF

            Para ahli Ilmu Tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki dan ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan lain sebagainya. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya. Sedangkan pada tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliyah atau wirid, yang selanjutnya di sebut sebagai tarekat. Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falssafi, akhlaki maupun amali, seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, dan bukan karena terpaksa.

            Harun Nasution mengatakan bahwa Alquran dan hadis mementingkan akhlak. Alquran dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus.Nilai-nilai ini yang harus dimiliki seorang Muslim yang akan bertasawuf sebagai pembentukan ke arah pribadi yang mulia.

            Dalam tasawuf masalah ibadah sangat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya, yang dilakukan dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. ibadah yang dilakukan itu erat kaitannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, bahwa ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Alquran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak/berpribadi mulia.

            Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah yang selalu melaksanakan pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka pada setiap kali beribadah. Hal itu dalam istilah sufi disebut dengan al-Takhallu bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau al-Ittishaf bi shifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat-sifat yang dimiliki Allah.

 

AKHLAK

            Menurut bahasa akhlak adalah bentuk jamak dari kata khilqun atau khuluqan yang berarti perangai, tabiat, watak dasar, kebiasaan, peradaban yang baik, dan agama. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”[15] dan “(Agama kami) Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.”[16] Rasulullah juga bersabda, “Orang Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya.”[17]dan “Bahwasannya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan budi pekerti.[18]

            Dari segi istilah menurut Ibnu Miskawaih, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[19] Sedangkan menurut Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[20]

Al-Ghazali membagi akhlak menjadi dua;

  1. Akhlak Terpuji atau Mulia (Akhlaq Mahmudah)
  2. Akhlak Buruk (Akhlaq Madzmumah)

            Akhlak yang baik timbul dari kebersihan hati, kesucian ruh, kestabilan pribadi, kemurniana sifat dan watak, karena tandon kekuatan hati telah dialiri oleh arus kekuatan Ilahiyah. Akhlak terpuji dapat mengarahkan pada sesuatu yang sempurna atau mengarahkan pada pembentukan kepribadian yang utuh. Ada yang menganggap bahwa tasawuf adalah sebuah akhlak, siapasaja yang akhlaknya meningkat, maka tingkatan tasawuf seorang sufi akan meningkat. Sebagaiman yang di ungkapkan oleh Mahmud Abdul Rauf Al-Qasim sebagai berikut:

  1. Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi penyucian jiwa, perbersihan akhlak dan membangun zahir dan batin agar memperoleh kebahagiaan yang abadi.
  2. Tasawuf adalah mengenakan segala akhlak yang baik dan meninggalkan segala akhlak yang jelek.
  3. Tasawuf seluruhnya adalah akhlak. Siapasaja meningkatkan akhlaknya, maka tingkatan tasawufnya juga akan meningkat.

            Keadaan hati yang takwa indikasinya adalah hati yang suci dan bersih, karena perasaan takwa dipengaruhi oleh kesucian dan kebersihan Allah. Dalam hadis dijelaskan bahwa hati mempunyai peranan yang penting untuk menentukan sebuah tindakan. Sebagaimana bunyi hadis berikut, “Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka semua tubuh menjadi baik. Tetapi, apabila ia rusak, maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah kalbu.”[21]

Ibnu Qoyim Al-Jauziyah membagi hati menjadi tiga.[22]

  1. Salim (selamat). Hati yang terbebas dari belenggu hawa nafsu, yang senantiasa melaksanakan ibadah dan melakukan perintah Allah Swt. serta menjauhi segala yanag dilarang-Nya. Aktivitas yang dilakukakn kalbu ini adalah selalu menuju kepada Allah Swt., baik dalam keadaan takut, berharap, cinta berserah diri, ikhlas, dan bertaubat. Berdasarkan ayat Alquran yang berbunyi, “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”[23]
  2. Maridh (Sakit). Yaitu, hati yang hidup, tetapi memiliki penyakit kejiwaan, seperti iri hati sombong atau angkuh, membanggakan diri, gila kekuasaan, dan mudah membuat kerusakan di muka bumi. Sebagimana yang dijelaskan dalam Alquran, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”[24] dan, “Agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.[25]
  3. Mayit (Mati). Yaitu, hati yang sudah tidak mengenal Tuhannya, meninggalkan ibadah, perbuatannya hanya untuk mengikuti hawa nafsunya yang menumbuhkan kebencian dan murka Tuhan.

Dinamika Kepribadian Islam

            Kepribadian menurut Islam adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.

            Nafs dalam khazanah Islam dapat berarti jiwa, nyawa, ruh, konasi yang berdaya syahwat[26] dan ghadhab[27], kepribadian, dan subtansi psikofisik manusia. Pada subtansi nafs ini, komponen jasad dan ruh bersatu. Subtansi manusia memiliki tiga daya, yaitu; (1) kalbu (fitrah Ilahiyah) sebagai asspek supra-kesadaran manusia yang memiliki daya emosi (rasa); (2) akal (fitrah insaniyah) sebagai asspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi (cipta) (3) nafsu (fitrah hayawaniyah) sebagai aspekk pra atau bawah-kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa).

            Ketiga komponen nafsani ini berintegrasi untuk membentuk sebuah perilaku. Dan ketiga komponen ini bekerja sama seperti satu tim yang berpusat di kalbu. Namun, dalam kondisi khusus, masing-masing komponen tersebut saling berlawanan, tarik-menarik, dan saling mendominasi untuk membentuk sebuah perilaku. Kondisi khusus ini terjadi apabila tingkah laku yang diperbuat memiliki sifat –sifat ganda yang bertentangan.

Berikut bagan cara kerja nafsani:

 

                                                                                                            Ihsan

                        Kalbu               Kepribadian Muthmainnah                    Islam

                                                                                                            Iman

                                                                                                           

                                                                                                            Sosialitas

Nafsani             Akal                 Kepribadian Lawwamah                       Moralitas

                                                                                                            Rasional

 

 

                                                                                                            Produktif

                        Nafsu               Kepribadian Ammarah              Kreatif

                                                                                                            Konsumtif

            Bagan di atas dapat dipahami bahwa masing-masing komponen nafsasni mempunyai saham dalam pembentukan kepribadian, walaupun salah satu di antaranya ada yang lebih dominan. Kepribadian Mutmainnah adalah kepribadian yang didominasi oleh kalbu (55%) yang dibantu oleh daya akal (30%) dan daya nafsu (15%). Kepribadian Lawwamah adalah kepribadian yang didominasi oleh daya akal (40%) yang dibantu oleh daya kalbu (30%) dan daya nafsu (30%). Sedangkan kepribadian Ammarah adalah kepribadian yang didominasi oleh daya nafsu (55%) yang dibantu oleh daya akal (30%) dan kalbu (15%). Bantuan daya akal lebih kuat daripada bantuan daya kalbu. Dengan demikian masing-masing komponen memiliki prosentase tersendiri dalam pembentukan kepribadian. Untuk lebih jelaskan berikut akan dijelaskan kekpribadian-kepribadian Islam;

 

  1. Kepribadian Ammarah. Yaitu, kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan. Ia menarik kalbu manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela. Sebagaimana firman Allah Swt., “karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[28]
  2. Kerpibadian Lawwamah. Yaitu, kepribadian yang telah memperoleh cahaya kalbu, lalu bangkit untuk memperebaiki kebimbangannya antara dua hal. Dalam upayanya itu, kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabakan oleh watak gelap-nya, namun kemudian ia diingatkan oleh nur Ilahi, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya ia bertaubat dan beristigfar. Allah berfirman, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” [29]
  3. Kepribadian Muthmainnah. Yaitu, kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya menjadi tenang. Allah Swt. berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.”[30]

            Dengan diuraikannya kepribadian Islam tersebut di atas, maka kita mendapat gambaran mengenai kepribadian seorang sufi. Kepribadian yang cocok bagi seorang sufi adalah kepribadian Muthmainnah.

 

 

 


PENUTUP

 

            Dari segi linguistik tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan, dan selalu bersikap bijaksana. Sikap yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu membentuk seseorang ke tingkat yang mulia. Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan Ruhnya dapat bersatu dengan Ruh Tuhan. Al-Ghazali mengatakan bahwa tasawuf itu adalah tuntunan yang dapat menyampaikan manusia mengenal dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt.

            Tasawuf diciptakan sebagai media untuk mencapai maqashid al-Syar’i (tujuan-tujuan syara’). Karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya, yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. ibadah yang dilakukan itu erat kaitannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution bahwa ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Alquran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak/berpribadi mulia.

            Harun Nasution lebih lanjut mengatakan bahwa Alquran dan hadis mementingkan akhlak. Alquran dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus. Nilai-nilai ini yang harus dimiliki seorang Muslim yang akan bertasawuf sebagai pembentukan ke arah pribadi yang mulia.

Selain itu, tasawuf juga mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut:

  1. Berupaya menyelamatkan diri dari akidah-akidah syirik dan batil
  2. Melepaskan diri (takhalli) dari penyakit-penyakit kalbu.
  3. Menghiasi diri (tahalli) dengan akhlak Islam yang mulia.
  4. Mencapai derajat ihsan dalam ibadah (tajalli).

            Dengan demikian kaum sufi harus selalu melaksanakan pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka pada setiap kali beribadah.

Wallahu A’lam bish-Shawab


Daftar Pustaka

            Alquranul-Karim 

            Muslim, Imam, Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut, t.th

            Al-Bukhari, Imam, Shahih Al-Bukhari, Semaranag: Thaha Putera, t.th

            Nasa’i, Imam, Sunan Nasa’I, Beirut: Dar al-Jail, t.th

            Tirmizi, Imam, Sunan Tirmizi. Semarang: Thaha Putera, t.th
            Arberry, A.J., Sufism, London: George Allan and Unwin Ltd., 1963.
            Badawi, A.R., Syatahat al-Sufiah, Cairo: al-Nahdah al-Misriah, 1949.
            Corbin, H., Histoire de la Philosophie Islamique, Paris, Gallimard, 1964.
      Miskawaih, Ibnu, Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyah, 1934
      A-Ghazali, Imam, Ihya’ Ulumuddin, Beirut: Dar al-Fikr, t.t., Jil. III 
            Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, edisi III, cet. Kedua.
            Siregar, Prof. H. A. Rivay, “Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme” cet. Kedua, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2000
            Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002
            Nata M.A, Prof. Dr. H. Abudin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima
            Manaf, Drs. H. Muhsin, Pschoanalisa Al-Ghazali Sofisme Holistic, Surabaya: Al-Ikhlas, 2001
            Mujib, M.ag., Abdul dan Jusuf Mudzakir M.si, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, cet. II
            Ali, Sayyid Nur Sayyid, At-Tashawwuf Asy-Syar’i, terj. M. Yaniyullah Jud.Tasawuf Syar’i, Jakarta: Hikmah-Mizan, 2003

 




[1] Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, edisi III, cet. Kedua.

[2] Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima, h. 179.

[3] Ibid., h. 181.

[4] Prof. Dr. H. Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Solo: CV. Ramadhani, Cet. Kelima, h. 36

[5] Sayyid Nur bin Sayyid Ali, Al-Tashawwuf Al-Syar’i, Terj. M. Yaniyullah, judul. Tasawuf Syar’i, Jakarta: Hikmah-Mizan, 2003, h. 17

[6] Ibid.

[7] QS Asy-Syam [91] :8

[8] QS Asy-Syam [91] :9

[9] Drs. H. Muhsin Manaf, Psychoanalisa Al-Ghazali Sofisme Holistic, Surabaya: Al-Ikhlas, 2001, h. 53

[10] Yaitu persatuan Ruh manusia dengan Ruh Tuhan

[11] QS Al-Baqarah [2]: 186

[12] QS Qaf [50]:16                    

[13] Yaitu kesatuan wujud. Prof. Dr. H. Abudin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003, cet. Kelima, h. 247.

[14] Tingkatan Suasana kerohanian yang ditunjukkan oleh seorang sufi, berupa pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Tim Redaksi Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedi Islam. cet. Kesepuluh, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2002

[15] (QS  Al-Qalam [68]: 4)

[16] (QS al-Syuara [26]: 137)

[17] (HR Ahmad)

[18] Ibid

[19] Ibnu Miskawaih, Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, Mesir: Al-Mathba’ah al-Mishriyah, 1934, cet. I, h. 40

[20] Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Beirut: Dar al-Fikr, t.t., Jil. III h. 56

[21] HR. Al-Bukhari dari Nu’man. Ibn ‘Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja’fi al-Bukhary Imam, Shahih al-Bukhari, Semarang: Thaha Putra, tt., juz I. h. 19

[22] Abdul Mujib, M.ag. dan Jusuf Mudzakir, M.si., Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, cet. II.   h. 211

[23] QS Asy-Syua’ra [26]: 89

[24] QS Al-Baqarah [2]: 10

[25] QS Al-Hajj [22]: 53

[26] Suatu daya yang berpotensi untuk memnginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Syahwat dalam terminologi psikologi disebut dengan appetite, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, dan hawa nafsu). Abdul Mujib, M.ag. dan Jusuf Mudzakir, M.si., Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002, cet. II. h. 56

[27] Suatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Ghadhab dalam terminologi Psikoanalisa disebut dengan defense (pertahanan, pembelaan, dan penjagaan. Yaitu, membela diri atau melindungi ego dari segala ancaman, kejahatan, kecemasan, dan rasa malu; perbuatan memanfaatkan dan merasionalisasikan diri sendiri. Ibid, h. 55-56.

[28] QS Yusuf [12]: 53

[29] QS Al-Qiyamah [75]:2

[30] QS Al-Fajr [89]: 27-28

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: