KONVERSI AGAMA

Juni 17, 2008 at 11:11 am (Uncategorized)

KONVERSI AGAMA

A. PENDAHULUAN

Didalam perkembangan jiwa agama pada orang dewasa masih banyak dalam kenyataan hidup sehari-hari yang merasakan kegoncangan jiwa agama diantaranya perubahan-perubahan keyakinan dan kepercayaan yang sering kali terjadi pada masyarakat. Dari segi ilmu jiwa agama perubahan – perubahan tersebut bukanlah suatu hal yang terjadi secara kebetulan saja, dan tidak pula merupakan pertumbuhan yang wajar akan tetapi suatu kejadian yang didahului oleh berbagai proses dan kondisi yang dapat diteliti dan dapat dipelajari.

B. PEMBAHASAN

Konversi agama menurut etimologi berasal dari kata lain “conversio” yang berarti tobat, pindah dan berubah (agama) sedangkan menurut terminologi konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya (Max Heirich).

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan

tempat berada. Selain itu, konvensi agama yang dimaksudkan diuraikan dengan beberapa teori.

  1. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan, sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri
  4. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Menurut Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat yang dimaksud dengan Konversi Agama adalah terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula. Di dalam mengalami konversi agama, prosesnya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan pertumbuhan jiwa yang dilaluinya serta pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil, di tambah lagi dengan suasana lingkungan dia hidup dan pengalaman terakhir yang menjadi puncak perubahan keyakinan itu.

Proses – proses jiwa tersebut yaitu :

  • Masa Tenang , yaitu sebelum mengalami konversi, jiwa seseorang tenang karena masalah agama belum mempengaruhinya.
  • Masa Ketidaktenangan, yaitu masa dimana masalah-masalah agama mulai mempengaruhi batin seseorang, bisa dikarenakan krisi, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya, sehingga terjadinya konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya. Perasaan-perasaan ini mengakibatkan seseorang menjadi lebih sensitive.
  • Masa Konversi, terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih.
  • Keadaan Tenteram dan Tenang, yaitu timbulnya perasaan atau kondisi jiwa yang baru, dimana jiwa merasa tenang dan tenteram yang timbul dari rasa puas terhadap keputusan yang sudah diambil.
  • Ekspresi Konversi dalam hidup, yaitu pengungkapan konversi agama dalam tindak – tanduk perlakuan, sikap dan perkataan dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan – aturan ajaran agama.

Proses konversi agama menurut M.T.L Penido[1] mengandung dua unsur, pertama unsur dalam diri (endogenos origin) yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini, membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi yang disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan pribadi. Kedua, unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai diri atau kelompok yang bersangkutan.

Diatas telah disebutkan bahwa konversi agama yang dialami seseorang dapat terjadi secara langsung ataupun secara bertahap. Salah satu kerangka perubahan keyakinan seseorang yang terjadi secara bertahap dikemukakan oleh H. Carrier, yaitu :

1. Terjadi desintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami

2. Reintegrasi kepribadian berdasar kan konsepsi agama yang baru

3. Tumbuh sikap agama menerima konsepsi agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya

4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Konversi Agama

A. Pertentangan batin dan ketegangan perasaan yaitu tidak mampunya seseorang mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Di samping itu sering juga terasa memukul jiwa, merasa tidak tenteram, gelisah yang kadang – kadang diketahui sebabnya dan kadang – kadang tidak diketahui[2].

B. Pengaruh hubungan social, diantaranya yang mendorong konversi agama adalah[3] :

· Pengaruh kebiasaan yang rutin, misalnya menghadiri upacara keagamaan.

· Pengaruh anjuran atau ajakan dari orang –orang dekat, misalnya keluarga, kerabat

· Pengaruh kekuasaan pemimpin, maksudnya adalah berdasarkan kekuatan hukum

· Pengaruh pemimpin keagamaan, dengan memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin agama menjadi faktor yang kuat dalam konversi agama

    1. Faktor emosi, penelitian G. Stanley Hall factor ini banyak terjadi pada usia remaja, karena pada masa ini terkenal dengan kegoncangan emosi yang dapat mendorong terjadinya konversi agama.
    2. Faktor kemauan (Imam Al-Gazali), kemauan memiliki peran penting dalam terjadinya konversi agama. Terbukti bahwa konversi terjadi sebagai hasil dari pertentangan batin yang mengalami konversi.

Starbuck, membagi 2 tipe konversi agama[4], yaitu :

  1. Tipe Volitional, konversi agama tipe ini terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohani yang baru.
  2. Tipe Selp-Surrender, tipe ini merupakan konversi agama yang terjadi secara drastis atau mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba mengalami perubahan keyakinan dan pendiriannya terhadap suatu agama. Dari tidak percaya menjadi percaya, tidak taat menjadi taat.

Starbuck membagi dua tipe berdasarkan gejala-gejala yang ia amati berdasarkan kesimpulan dari penelitian William James, pada tipe yang kedua, William mengakui adanya pengaruh petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

C. KESIMPULAN

Konversi agama adalah proses dari sikap tidak peduli terhadap norma Agama, hingga penerimaan suatu sikap keberagamaan, proses itu bisa terjadi secara bertahap atau tiba-tiba. Proses ini menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar.

Menurut kajian psikologi agama, terjadinya perubahan arah dalam keyakinan seseorang tidak akan lepas dari penyebab utamanya, yaitu karena petunjuk atau Hidayat Ilahi, akibat penderitaan batin ataupun pilihan sendiri setelah melalui pertimbangan yang masak. Di awal-awal terjadinya perubahan tersebut, setiap diri merasakan kegelisahan batin. Sehingga sulit untuk memutuskan secara spontan mana yang harus diikuti.


[1] Prf. Dr. H. Ramayulis, Pengantar Psikologi Agama, hal 69

[2] Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, hal 184

[3] Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, hal 275

[4] Prof. Dr. H. Ramayulis, op.cit., hal 65

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: